Runtuhnya Sebuah Kesombongan PDF Print E-mail
Written by Don S. Basuki   
Monday, 15 September 2008

 

SMU Taruna Bangsa, Surabaya.

Kriiing… Bel tanda masuk sekolah berbunyi nyaring. Hari Senin adalah hari upacara bendera. Murid-murid SMU Taruna Bangsa berduyun-duyun menuju ke lapangan untuk kemudian berbaris dan siap mengikuti kegiatan yang dilakukan secara nasional setiap hari Senin di setiap sekolah.
Seorang anak laki-laki lari tergopoh-gopoh menuju kelasnya untuk meletakkan tasnya. Dia sedikit terlambat dari biasanya.


Braaakkk… Tak sengaja dia menabrak sesorang.
“Hei… Matamu picek yo!”
“Maaf Di.. Maaf… Aku ga sengaja…”
Andi mencengkeram kerah baju Joko sambil melotot.
“Sudahlah Di… Jangan di sini… Lepaskan dia…” seorang teman Andi mencoba melepaskan cengkeraman Andi.
“Huh… Dasar anak kampung!” maki Andi sambil mendorong Joko.

Joko tak memerdulikan Andi. Dia bergegas ke kelasnya, meletakkan tas dan lekas bergabung dengan teman-temannya yang lain sebelum upacara dimulai.

---

Andi adalah seorang murid yang tampan, tinggi besar, jago bermain basket, dan pemegang sabuk hitam Dan 1 pada sebuah perguruan karate di Surabaya . Dalam satu pertandingan antar SMU se-Jawa Timur, dia berhasil memboyong medali emas untuk kumite (pertarungan) bebas. Ayahnya adalah seorang pebisnis yang sukses dan kaya raya di Surabaya .

 

Sayang sekali, segala kelebihan yang dipunyai Andi ditutupi oleh sikapnya yang sombong dan congkak, memandang rendah teman-temannya yang lain. Dia menganggap bahwa semua teman-temannya bisa dia beli dengan uangnya, atau dengan mengintimidasinya. Apa yang menjadi kehendaknya harus segera terlaksana. Dan Andi selalu berhasil memperolehnya. Dengan sikapnya yang demikian, Andi menjadi seorang yang ditakuti di kalangan murid-murid SMU Taruna Bangsa.

“Hei Ran… belum pulang?”
“Belum, lagi nunggu dijemput kakakku.”
“Aku anter pulang ya? Sekalian mampir dulu makan es di Zangrandi, mau?”
“Ga usahlah Di. Nanti kakakku nyariin aku.”
“Alaaah Ran… telepon aja kakakmu, bilang kamu mau dianter pulang sama aku, khan beres!” Andi mulai memaksa Rani, gadis cantik teman sekelasnya.
Rani mulai tampak tak senang dan gelisah, “Aku mau pulang sama kakakku aja Di!”
Andi menarik tangan Rani, “Yuuk… udahlah, biar aku yang telepon kakakmu kalo gitu.”
“Lepaskan Di! Aku ga mau!!!” Rani mulai panik.

Jam sudah hampir menunjukkan pukul tiga. Sekolah sudah relatif sepi.

“Ayolaaah…” paksa Andi agak sedikit menyeret Rani.
Tiga orang teman Andi hanya tertawa melihatnya. Biasa, cecunguk dan begundal memang ada di mana-mana.
“Sudahlah Ran… Ikuti aja apa kata Andi. Diajak makan es kok ga mau,” bujuk Arman.
“Iya Ran, Andi suka sama kamu tuh. Dijamin kamu pasti hidup enak deh!” kata Dendi.
 
“Ga mau! Lepaskan! Atau aku teriak nih!”
“Hahaha… Ayo, teriak aja yang keras… Paling juga angin yang denger!”
Rani mulai menangis..

 

 

Tiba-tiba…

 

 

“Di, lepaskan Rani!” tegur Joko. Andi terkejut.
“Hei bocah kampung, jangan ikut campur urusanku!”
“Jangan gitu Di. Rani kan teman kita juga. Jangan paksa dia. Kasihan dia,” bujuk Joko.
Andi melepaskan Rani, menuju ke arah Joko. Ketiga temannya mengikuti di belakangnya. Joko diam saja.
“Kamu mau sok jago ya? Belum pernah KO?” ancam Andi.
Joko menatap mata Andi lekat-lekat. Andi merasa tertantang.

“Ikuti aku!” Andi mencengkeram baju Joko sambil menyeretnya pergi.
“Di, jangan Di! Joko mau kamu apakan?” teriak Rani.
Andi tak menghiraukan. Dia tetap menyeret Joko, menuju ke WC putra. Joko sepertinya pasrah saja diseret menuju “ruang pengadilan”, begitu murid-murid SMU Taruna Bangsa menyebutnya.

Dibandingkan Andi, Joko bertubuh biasa saja. Berkulit sawo matang dan bila disejajarkan, dia hanyalah setinggi telinga bawah Andi. Joko termasuk murid yang pendiam. Di kelas, dia termasuk murid yang pandai, selalu masuk ranking 5 besar.

“Di, kalo kamu mau mukuli aku, jangan di WC. Di kebun belakang sekolah aja,” pinta Joko sambil memelas.
“Aes… ga usah banyak omong!”
“Apa bedanya Di, toh aku bakalan bengep juga. Lagi pula, kalo aku pingsan di kebun belakang sekolah, ga ada yang bakal nemuin aku sampai aku sadar.”


Betul juga kata Joko, pikir Andi yang sudah mata gelap.
“Betul juga kata bocah kampung ini Di,” Dendi memanas-manasi.
“Bawa ke kebun belakang sekolah aja Di,” saran Toni.
“Iya Di, kita hajar di sana saja!” Arman tak mau kalah mengompori.
Akhirnya Andi menyeret Joko ke arah kebun belakang sekolah SMU Taruna Bangsa.

Joko tersungkur di tanah begitu Andi mendorongnya hingga jatuh.
“Kamu belum pernah ngerasain gimana rasanya dihajar sama karateka ya?” Andi sesumbar.

 

“Huh… Di… Di… Sikapmu itu malah membuat malu karateka yang lainnya. Membuat malu gurumu, tau tidak?” kata Joko sambil berdiri.
“Kamu sudah melanggar 2 dari 5 sumpah karate!” lanjut Joko.

 

“Kunyuk! Tau apa kamu soal sumpah karate segala?!”
“Hehehe… Yang jelas, kamu melanggar sumpah sanggup menjaga sopan santun, dan sanggup menguasai diri. Bener ga kataku?” Joko mencoba tersenyum.
“Kurang ajar! Makan ini!”

 

Buuuukkk… Sebuah pukulan telak mendarat di pipi Joko, menyerempet bibirnya hingga berdarah.
“Satu…” desis Joko.

 

“Apaaaa???” Andi berteriak kalap, merasa diremehkan.
Buuuukkk… Sebuah tendangan mae geri (tendangan lurus) bersarang telak di perut Joko. Joko memegangi perutnya sambil mendesis, “Duaaa…”

 

Buuuukkk… Tendangan sabit mawashi geri menemui sasarannya menghajar rusuk Joko. Joko meringis menahan nyeri. Andi makin kalap. Ketiga temannya ganda tertawa dan menyoraki.
“Tigaaa… Cukup Di… Cukup! Apa kamu mau ngeliat aku mati?” sergah Joko.
“D*an**k koen bocah kampung! Mau coba mempermainkan aku ya?!”

Dengan posisi kamae, Andi bersiap kembali melancarkan serangan.
Joko menyeka darah di bibirnya.
Hyaaaaatttt… Andi berteriak sambil melancarkan pukulan lurus chudan tsuki ke arah ulu hati Joko, dan bila Joko masih tetap berdiri, Andi telah menyiapkan terusannya, pukulan san bon tsuki (pukulan 3 kali beruntun). Serangan yang telengas!

Aaaggghhh…!!! Andi berteriak kesakitan! Dia menyeka hidungnya. Berdarah! Hidungnya terasa nyeri sekali. Andi tak habis pikir. Mengapa tiba-tiba dia merasakan nyeri di pergelangan tangannya juga, dan entah bagaimana ceritanya hidungnya bisa pecah berdarah. Arman, Dendi dan Toni juga terkejut. Mereka berempat tidak menyangka, dan tidak pernah mengira. Joko menghajar Andi si Juara Karate? Rasanya mustahil!

Apa yang sebenarnya terjadi?
Beberapa centimeter sebelum pukulan Andi mengenai sasaran, Joko dengan cepat bergerak dengan teknik “Tebang Sikap Pendeta Terusan Satria”. Dua gerak yang dilakukan dalam waktu yang hampir bersamaan, mungkin kurang dari satu detik! Punggung tangan kiri Joko telak menyambar hidung mancung Andi.

“Maaf Di… Kita sudahi saja urusan ini!”
“Enak aja! Ternyata diam-diam lu bisa berkelahi juga ya!”
“Sudahlah Di… Aku ga mau menyakiti kamu!”
“Huh! Gue mau tau sampe di mana kebisaan lu!”
Andi mengempos semangatnya. Ketiga temannya bersiap mengeroyok. Joko masih berdiri waspada.

Secara teori, kalau dikeroyok, hajar dulu pemimpinnya sampai menyerah, maka yang lainnya akan berpikir seribu kali untuk meneruskan keroyokan. Tetapi Joko berpikir lain. Mengingat bahwa Andi adalah juara karate se-Jawa Timur, mungkin agak sulit untuk melumpuhkan dia, sementara 3 orang lainnya akan merepotkan dia kalau memang harus menghadapi keroyokan mereka.

Dengan berteriak nyaring, Andi melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah Joko. Joko bergerak gesit dan dapat menghindari serta memapas semua serangan Andi. Hingga satu kesempatan, Joko menggesut ke kiri dan menghajar tempurung lutut Andi dengan teknik Tolak Luar Garuda saat Andi melancarkan tendangan. Belum sempat Andi selesai mengaduh, dia telah terjerembab karena didorong oleh Joko. Sebenarnya, bila Joko mau, teknik Cawuk Harimau yang dilancarkan setelah menghajar tempurung lutut, dapat segera menyelesaikan Andi. Tetapi Joko masih memberi kesempatan, dan mengubah serangan cawukan ke arah telinga menjadi sekedar dorongan saja.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Joko bergerak bagaikan burung walet. Menyambar Arman, menghajar Toni dan mengakhiri pengeroyokan dengan melumpuhkan Dendi. Nyali ketiganya bagaikan terbang, dan mereka memilih untuk tidak melanjutkan perkelahian. Pilihan yang tepat! Tetapi tidak dengan Andi.

Andi bangun dengan mata yang menyala-nyala. Amarahnya memuncak ke kepala, menutupi akal sehatnya. Dia merasa dipermalukan! Bagaimana tidak? Dia yang terkenal sebagai Juara Karate se-Jawa Timur, bisa dengan mudah dihajar oleh anak kemarin sore yang terlihat lemah dan lebih kecil dari dia?

 

Ssssshhhh… Ssssshhhh…. Haaaaaahhh… Andi mengeluarkan napas mendesis dari mulut. Tangan dan kakinya bergerak lambat penuh tenaga. Otot-ototnya menggembung.

Sanchin! Pikir Joko.

Ya, Andi sedang mengempos tenaga dengan Sanchin kata (jurus). Sanchin bila dilatih dengan baik, dapat membuat tubuh menjadi kebal terhadap pukulan dan tendangan. Sebaliknya, biar pun terlihat lambat, pukulan dan tendangan yang dilambari dengan tenaga dari jurus Sanchin, akan sangat bertenaga dan sangat berbahaya. Bila terkena, tidak mustahil akan membawa lawan ke pintu gerbang kematian.

Sanchin kata dapat digolongkan dalam pelatihan tenaga dalam keras atau tenaga dalam kasar (yang kang atau weikung), atau semacam pernapasan gwakang pada silat yang dipelajari Joko. Dan Joko tahu, rahasia kelemahan teknik semacam itu. Dia menunggu saat yang tepat.

Huuuhhh… Buuukkk… Saat Andi menarik napas, Joko menyertainya dengan teknik Tebak Harimau yang dilancarkan tanpa tenaga, menyerang ke arah satu jari di bawah kedua puting Andi. Begitu menyentuh badan Andi, serangan Joko menjadi deras berisi tenaga. Inilah salah satu aplikasi dari teknik “kosong-isi”.

 

Akibatnya luar biasa! Benteng dari tenaga Sanchin dapat tertembus dan jebol. Kuda-kudanya yang kokoh kuat tergempur! Tersentak, Andi terlempar ke belakang bagaikan layang-layang putus tali. Namun dengan teknik yang bagus, Andi dapat menggulung dan kemudian berdiri lagi. Tetapi Joko tidak memberinya kesempatan untuk menyiapkan diri.

 

Susulan serangan slosor ke arah kemaluan Andi bersarang telak hingga membuat Andi terangkat dan jatuh nyaris tak sadarkan diri. Andi mengerang… Melihat Andi roboh, Joko menyimpan serangan susulan Tusuk Kuntul yang akan dilancarkan ke arah jakun.

Joko menghampiri Andi. Dia memeriksa keadaan lawannya yang masih mengerang kesakitan. Kedua mata Andi terbalik, hanya terlihat putihnya saja. Wah, testisnya naik! Celaka! Pikir Joko. Dengan cepat Joko mendudukkan Andi, lalu dengan perlahan, Joko menendang-nendang daerah dekat tulang ekor Andi dengan telapak kakinya. Setelah yakin bahwa keadaan Andi telah kembali normal, Joko mengurut dan mengusap beberapa titik di punggung Andi. Joko melihat bahwa mata Andi sudah normal kembali dan mukanya sudah berwarna dan tidak lagi pucat seperti kertas.


“Kalau kalian masih petentang petenteng lagi, maka aku tak akan segan-segan menghajar kalian di depan teman-teman! Kalau kalian masih penasaran, aku murid Perisai Diri ga bakalan lari biar sepuluh orang macam kalian cari penyakit! Ingat itu!” ancam Joko serius.

 

Andi, Arman, Dendi dan Toni terkejut. Sangat terkejut, mendengar pengakuan Joko bahwa dia adalah seorang murid Perisai Diri. Ya, Perisai Diri, perguruan silat besar yang pusatnya berkedudukan di Surabaya .

Joko berjalan meninggalkan mereka berempat, kembali menuju kelasnya untuk mengambil tasnya. Hanya saja, sekarang dia berpikir keras, bagaimana dia harus menjelaskan kepada Ibundanya mengenai seragam sekolahnya yang kotor dan koyak.

SELESAI

Last Updated ( Friday, 19 September 2008 )
 
< Prev

Photo Gallery

Random
Usai Ujian Pelatih di AKIP - 2 DPP_0169 DPP_0174 pelatih-semarang1 Serang Hindar
Latest
PD-UGM8 PD-UGM7 PD-UGM6 PD-UGM5 PD-UGM4
Popular
Mukernas 2008 02 With_Mas_Wuk_n_Mas_Joko_Widodo Mas_Arnowo_Adjie Mas_Tom Mas_Ruddy_Kapojos

Translate !!!


Polls

Perlukah menampilkan hasil keputusan munas di web?
 

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Who's Online

We have 2 guests online

Statistics

Members: 1098
News: 117
Web Links: 8
Visitors: 461749

Syndicate

Visitor Watch

JoomlaWatch Stats 1.2.7 by Matej Koval

Countries

48.2%INDONESIA INDONESIA
27.4%AUSTRALIA AUSTRALIA
15.8%UNITED STATES UNITED STATES
2%NETHERLANDS NETHERLANDS
1%MALAYSIA MALAYSIA
0.9%JAPAN JAPAN
0.5%SWITZERLAND SWITZERLAND
0.5%NORWAY NORWAY
0.4%UNITED KINGDOM UNITED KINGDOM
0.3%CANADA CANADA

Visitors

Today: 68
Yesterday: 209
This week: 436
Last week: 368
This month: 804
Last month: 1800
Total: 21264


Forum Latest Post

Artikel

Apa Manfaat Belajar Silat?

100%
-
+
3
Show options

Serem Banget, Pendekar Tua Saling Gebrak di Jepang

Herdjoko/Monu Katili Tokyo (PD) "Kowai...!!! Kowai..!!!" Itulah teriakan spontan dari beberapa pemuda dan pemudi berkulit kuning bermata si...

Readmore

Kang Suryanto Harus Menghadapi Muaythai

Herdjoko Solo (PD)   Terjangan lutut maupun sodokan siku silih berganti mengarah tempat-tempat berbahaya. Lelaki berbobot 53 kg itu matanya tida...

Readmore

Pesilat PD Juarai Invitasi Nasional Pencak Silat Pasir Pantai

Solo (PD)   Pipi gadis itu memerah dan menghitam karena sengatan panas matahari yang berada di titik kulminasi. Jidatnya mengembun keringat. Dua...

Readmore

More in: Latest News

-
+
3
Show options