| Solospell.. |
|
|
|
| Written by anjar | |
| Wednesday, 17 September 2008 | |
|
Tahun 2001, di suatu tempat latihan..
Di usia yang masih terbilang muda itu, dan dengan sisa dukungan fisik yang masih memadai, ia terus memompa semangatnya dalam berlatih. Gemblengan sang guru untuk berlatih habis-habisan terus terdengar di dalam hatinya. Sudah banyak pelatih ataupun anggota di daerahnya yang ia coba untuk berlatih Serang Hindar. Ia ingin merasakan perbedaan gerak dari setiap orang. Namun itu saja masih dirasa belum cukup. Ia ingin mencoba ciri khas pelatih lain yang berbeda dari daerahnya.
Tidak jarang, di setiap kota yang didatanginya, ia menyempatkan diri untuk berlatih bersama pelatih yang lain, untuk merasakan perbedaan2 teknik yang ada di kota tersebut. Tujuannya hanya satu, ingin mengetahui sejauh manakah sebenarnya kemampuan dirinya dalam mengaplikasikan teknik Perisai Diri.
…………………………
Harya adalah seorang anggota PD yang telah mencapai tingkat pelatih. Tingkatannya di jajaran pelatih, masuk dalam kategori tingkatan yang memiliki jiwa yang ganas. Memang pada tingkat inilah, seseorang akan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya dan sangat haus akan pelajaran yang lebih tinggi. Namun setelah lama berlatih, ia kini sampai pada titik kejenuhan. Ia mulai merasakan tidak bisa lagi Serang Hindar habis-habisan dengan kawan-kawannya. Banyak yang merasa ngeri dan menghindar bila harus berpasangan dengan dirinya..
Kekhawatiran kawan-kawannya sangat beralasan. Mereka khawatir kalau-kalau Harya tidak lagi bisa mengontrol derasnya serangan yg dilakukan. Karena acap kali serangan yang dilakukan tidak akan berhenti kalau si penghindar terlambat. Bagi dirinya, bila serangan sudah sesuai dengan pedoman, dan mengenakan target sasaran dengan keras, karena si penghindar terlambat bergerak, itu adalah bagian dari meng’asuh’ lawan. Asuh, sebagai teguran kepada sesama kawan pelatih bahwa hindaran mereka belum sempurna. Bahwa hindaran seperti itu, mungkin tidak akan berhasil bila menghadapi orang-orang jahat di luar sana . Inilah kekhawatiran yang dirasakan kawan-kawannya sesama pelatih, terlebih bagi mereka yang putri.
Tiga tahun berlalu, di tempat latihan yang sama..
“Awas..!” seru Harya sambil melayangkan pukulan Satria ke kawannya, Halim, yang bertingkat Biru.. ‘Kurang..’ serunya kembali pada saat menghindari balasan Pendeta dari Halim. Kata ‘kurang’ maksudnya meminta Halim untuk menambah tenaga serangannya. ‘Gejug!!!’ serangan gejug dalam pun keluar dari Harya saat posisi lutut Halim terbuka.
“Saya kehilangan kawan latihan, Mas. Kalau saya terus menerus mencurahkan segala-galanya, lama-lama tidak ada lagi yang mau Serang Hindar dengan saya,” tutur Harya dengan polos. Pernyataan yang didasari oleh pengalamannya tiga tahun belakangan ini..
‘Oo.. begitu ya… Berarti kamu hebat ya? Setidaknya kamu merasa diri kamu sudah sakti sekali. Orang gak ada yang bisa meladeni. Paling dua atau tiga orang aja di sini yang bisa meladeni kamu, dan itu pun mereka juga jarang keliatan berlatih,” kata Mas Malomoe.
Harya hanya terdiam menunduk. Dirinya malu untuk menjawab. Sama sekali bukan karena merasa hebat ataupun unggul, namun memang ia tidak bisa lagi bersilat secara habis-habisan.. Ia tidak ingin orang menjauh, ia masih ingin terus berlatih dengan kawan-kawan yang lain.. Ia yakin kawan-kawan lain pun akan sama bahkan lebih hebat dari dirinya bila mereka bersilat habis-habisan. Hanya saja mereka punya batasan-batasan tertentu saat berlatih.
“Sekarang saya mau tanya. Bila kamu di rumah, dan ternyata kamu harus berhadapan dengan orang yang pegang golok, nyawa kamu terancam… Apakah kamu bisa melawan dengan kondisi kamu sekarang?”
“Mudah-mudahan, kalau masih dilindungi Yang Maha Kuasa, saya bisa Mas. Biarpun saya gak pernah berharap akan bertemu orang yang seperti itu,” jawab Harya
‘Oo.. begitu ya.. . Lalu berapa gerak kamu perlukan untuk menghabisi orang pakai golok itu.. Nyawa kamu terancam lho.. gak main-main ini!!”
“Mudah-mudahan cukup tiga gerak, Mas. Kalaupun meleset, mudah-mudahan lima sudah jadi penyelesaian.”
“‘Wah.. Hebat kamu. Benar-benar yakin hanya tiga gerak kamu bisa menghabisi orang pakai golok?”
Harya tidak menjawab, hanya diam..
“Sekarang kamu coba lihat rangkaian thoya di Buku Kuning itu. Pernah tidak kamu lakukan rangkaian Thoya itu.. Ada berapa gerak itu rangkaian Thoya di situ?”
“ Ada 150 gerak mungkin, Mas. Saya gak tau persis.”
“Nah itu.. Kamu bisa gak solospell thoya 150 gerak sesuai di buku itu?”
‘Yaa kalo hafal bisa Mas.”
‘Lho.. kamu koq bisa solospel 150 gerak thoya? Memangnya rangkaian itu dibuat Pak Dirdjo seperti apa? Apa kamu main sendiri di situ? Apa ada lawannya di situ? Ada berapa lawan di rangkaian itu? Satu, lima , atau sepuluh orang???”
‘Yah harusnya kalau di dalam rangkaian pak Dirdjo, lawannya cuma satu, Mas.”
‘Nahh..!! Sekarang kamu melawan orang pakai golok dan mau ngabisin nyawa kamu. Kamu kok bisa cuma pakai tiga sampai lima gerak. Lawannya habis.. Benar-benar, gak bisa berdiri lagi itu orang. Sementara kamu main solospel thoya Pak Dirdjo ada 150 gerak !! Lawannya gak mati mati!!! Siapa lawan kamu saat solospell itu?! Pernah kepikir gak sama kamu? Sebanyak 150 gerak, secepet-cepetnya kamu, seganas-ganasnya kamu, sehebat-hebatnya kemampuan kamu, dia masih bisa hindar, dia masih bisa ketawa, bahkan masih bisa MEMBALAS serangan-serangan kamu! Siapa itu di situ?!”
Bagai menerima pukulan yang telak, mulut Harya langsung menganga mendengar tuturan pelatihnya. “Solospell???” bisik Harya.
“Selama ini saya telah menganggap remeh tentang solospell..’ itulah yang terucapkan oleh hatinya. Jantungnya berdentum keras..!
……….
Sepanjang jalan pulang ia terus berpikir.. Merenung apa yang diucapkan oleh Mas Malomoe di pelataran parkir tadi.. Ternyata masih banyak yang harus dipelajari. Baru saja aku merasa berakhir, ternyata sudah terbuka tabir baru yang membuka diriku untuk pelajaran berikutnya.. Ternyata PD sangat luas.
“Bersyukur aku di sini..”
Kalimat ini terus berdengung di hati Harya. Tengkuknya masih terasa merinding, detak jantung masih keras di dengar di hatinya. Rasatakut masih sangat ia rasakan. Takut karena ia baru saja dibukakan tirai pelajaran baru yang lebih luas. Ia merasa memasuki ruangan gelap baru yang tak bertepi, dan ia hanya setitik kecil di awal pintu. Bunyi HU-RIP terus berkumandang seiring detak jantungnya yang keras. Tanda bahwa ia benar-benar takut karena berada kembali di titik nol. Di lapisan baru yang akan dilaluinya.
(***) |
|
| Last Updated ( Thursday, 18 December 2008 ) |
| Next > |
|---|







