|
Jakarta (PD)
Tendangan gejlik itu meluncur deras menerpa dada tanpa
terhindarkan lagi. Suaranya berdebam. Sekitar 234 anggota Brigade Mobil
Gegana dari Polri yang menyaksikan tarung itu terdiam. Apakah si
penerima tendangan terpental dan KO bahkan muntah darah? Ooo... keliru.
Keliru besar bila menyangka hal itu.
Kasyanto yang berambut
gondrong, masih tegak gagah tangguh berdiri. Si penendang, Kusnaini
juga tidak kalah beringasnya. Tahu bila lawannya masih
kukuh-tangguh-tanggon; Kusnaini spontan mengubah serangan dengan sabit
kanan dan kiri bergantian. Sepertinya Kasyanto memang sengaja pamer
kekebalan tubuhnya dengan cara teknik olah nafasnya. Tendangan beruntun
ditambah dengan pukulan pendeta itu ia biarkan mendera badannya
berkali-kali dan berkali-kali. Tetap berdiri kukuh, tanpa ada rasa
kesakitan sedikit pun.
Spontan ratusan pasang tangan anggota
polisi berambut cepak itu pun bertepuk tangan riuh. Dua petarung itu
adalah Mas Kasyanto dan Mas Kusnaini (Biru Merah) anggota PD Jakarta.
Aplaus yang membahana itu adalah wujud kekaguman mereka atas pameran
demontrasi silat Perisai Diri DKI Jakarta yang dalam tiga bulan ke
depan akan menggembleng para anggota Brimob dengan teknik PD. Mereka
akan berlatih tiga jam setiap harinya.
Dari anggota tim Gegana
Brimob yang akan berlatih PD itu ternyata ada tiga orang yang telah
memiliki bekal ilmu PD. Dua orang tampil ke depan, satu orang memimpin
untuk mendemontrasikan kepiawaian mereka menguasai ilmu silat di depan
rekan-rekannya dan didepan para senior PD Jakarta.
Tidak mau
kalah, mereka pun mengeluarkan ilmu simpanan mereka dalam teknik
serang-hindar. Tepuk tangan riuh-rendah dan aplaus rekan-rekannya
semakin menyemangati dua anggota Brimob yang telah mengecap ilmu PD
sewaktu mereka masih menjadi siswa sekolah di Bali dan di Nusa Tenggara
Barat.
"Mereka
hebat. Apa yang mereka miliki, mereka tampilkan," kata Mas Tony Widya
(Merah Kuning) yang ikut dalam demonstrasi pembukaan resmi latihan PD
untuk anggota Brimob tersebut.
Demonstrasi teknik PD itu sendiri
dipimpin oleh Mas Limonu Katili (Pendekar) didampingi Mas Kasno (Merah
Kuning). Secara kebetulan Mas Joko Widodo (Merah Kuning) dari
Yogyakarta berkunjung ke Jakarta sehingga langsung diajak ikut unjuk
kebolehan ditemani Mas Tony Widya. Selain mereka masih ada beberapa
senior PD yang ikut tampil seperti Mas Kukuh Ananto (MK), Mas
Kaswantoro (M), Mas Hendrik Saragih (BM) asal Bandung, Mas Dullah
Kastur (BM), Mas J.N. Anindito (BM, Ketua PD DKI), Mas Abdul Hamid (B)
asal Demak, Mas Gabriel (B) asal Papua, dan Mbak Wulantri Mayangsari
(B) asal Malang.
Tim demonstrasi menampilkan banyak nomor. Mulai
dari senam masal yang dipimpin oleh Mas Monu, lalu serang hindar tangan
kosong, serang-hondar toya antara Hendrik Saragih vs Kaswantoro,
teknik Pedang Dua oleh Mas Kusnaini yang menggunakan dua tongkat
pentungan yang biasa digunakan polisi, dan beladiri oleh Mas Joko
Widodo dan Mas Tony Widya.
Pada
sesi beladiri ini, Mas Joko Widodo yang berberat badan 52 kg harus
mengatasi serangan tendangan Mas Tony yang berbobot 75 kg. Ketika Mas
Tony melancarkan sabit kanan, Mas Joko menaklukkannya dengan lompat
egos kiri dengan membawa serta kaki penendang. Tubuh Mas Tony yang
tinggi besar diangkat dengan ringan melalui teknik PD yang tepat.
Demikian
pula ketika tendangan T kanan menerpa Mas Joko. Dengan teknik sederhana
bedol Naga, serangan itu punah. Penendang pun bisa dijungkir-balikkan
dengan ringan oleh si empunya bobot hanya 52 kg tersebut.
"Kami
berusaha menunjukkan bahwa ini lho teknik PD. Saya menendang sepenuh
hati dan sepenuh tenaga dengan teknik yang benar. Saya tahu Mas Joko
yang bertubuh kecil pasti bisa mengatasi karena dia menguasai teknik
PD. Dengan cara itu para anggota Brimob akan makin memahami seperti apa
keistimewaan teknik silat PD itu," ujar Mas Tony.
Soal
bagaimana kisah tim Gegana Brimob Polri tertarik pada teknik PD, Mas
Monu Katili bercerita, "Ini merupakan hasil kesepakatan bersama antara
Mas Kasno, Mas Hari (B), Mas Gabriel (B) serta Mas Dullah Kastur (BM)
dengan pihak Brimob."
Para anggota Brimob berlatih aneka macam
beladiri. Ada yang memilih AIKIDO, Tae Kwon Do, Beladiri Polri, hingga
Karate. Masuknya Silat makin menunjukkan bahwa Polri menjunjung tinggi
beladiri asli Indonesia.
Satuan Gegana yg diwakili Komisaris
Polisi Moh. Alfian Hidayat menyambut kedatangan tim demontrasi teknik
PD itu di Markas Brimob Polri di Kepala Dua, Jakarta. Setelah acara perkenalan usai, demontrasi pun digelar. Bila
anggota PD menampilkan teknik silat, maka tim Gegana Brimob memamerkan
kekompakan mereka dalam aneka gerak rampak dan lagu-lagu penggugah
semangat.
Tiga
bulan lagi, kita semua berhak berharap, 234 anggota tim Gegana Brimob
Polri itu pasti bisa melakukan serangan kilat berantai: Garuda kanan, kilat gejug kanan, daun melayang Naga kiri. Mungkin yang lain akan pamer dengan Pendeta kanan
slewah, disusul gejlig kanan, daun melayang sabit kiri, swaislag
kanan!!! (***)
|