| PD Yogya Rebut Pesilat Terbaik Kejuaraan Silat Pelajar |
|
|
|
| Written by Herdjoko | |
| Tuesday, 31 March 2009 | |
|
Yogyakarta (PD)
Parji Nurcahyo Saputra, pelajar SD Payongan, Kabupaten Bantul,
Yogyakarta dinobatkan menjadi Pesilat Terbaik Putra pada Kejuaraan Pencak Silat
se-Daerah Istimewa Yogyakarta yang diikuti oleh 160 pelajar SD dan 425
pelajar SMP dan SMA. Kejuaraan itu berlangsung sejak Kamis (26/3/2009)
dan berakhir Senin (30/3/2009) di Gedung Olahraga Gabusan, Bantul.
Parji yang turun di kelas C Putra (30-33 kg) harus bertanding
sebanyak enam kali untuk bisa meraih emas dan gelar terbaik itu.
Membludaknya peserta menjadikan panitia dan wasit/juri kewalahan
melayani para pesilat anak-anak hingga remaja itu. Bahkan untuk tingkat
SD, sekitar 50 peserta ditolak pendaftarannya karena panitia merasa
tidak sanggup untuk menampung mereka dalam kejuaraan silat pelajar
tersebut.
"Satu kelas bisa terisi 40-an pesilat. Untuk anak-anak SD bahkan
ada yang terpaksa bertanding tiga kali dalam sehari. Gelanggang yang
digunakan hanya satu arena sehingga wasit/juri harus bekerja keras dan
cepat. Satu babak sering kurang dari dua menit," kata Mbak Endah
Irianti (Biru Merah), pelatih PD asal Bantul.
Secara keseluruhan peserta kejuaraan itu didominasi oleh pesilat dari perguruan Tapak Suci dan Perisai Diri. Para pesilat Tapak Suci berasal dari sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Sebagai gambaran, untuk tingkat SMP dan SMA (dua tingkatan sekolah ini
dijadikan satu golongan pesilat remaja), para pesilat Tapak Suci bisa
berjumlah 300 pelajar dari 435 peserta. Sementara pesilat PD berjumlah
sekitar 70-an. Sementara untuk pesilat SD, pesilat PD menurunkan
sekitar 60 pesilat.
Para pesilat PD dari Bantul (dari SD, SMP, hingga SMA) mampu
memborong 6 emas, 2 perak, dan 4 perunggu. Sementara tim PD SMA Negeri
3 Yogyakarta membawa pulang 1 emas, 2 perak, dan 3 perunggu; adapun
pesilat tingkat Madrasah Ibtidaiyah dari Pondok Pesantren Pandanaran, Sleman yang mengirimkan 6 pesilat berhasil membawa 1 medali perak.
"Dari pertandingan itu kami bisa belajar melihat pola yuri dalam
menilai. Pesilat PD yang lebih senang menyerang beruntun ternyata
justru kalah oleh para pesilat yang mengandalkan serangan satu-dua. Serangan
satu-dua itu tampaknya mudah untuk dilihat para yuri dan sekaligus
memudahkan mereka menilai. Mungkin itu karena para yuri dan wasit yang
memimpin adalah pemula. Meski demikian semua itu menjadi catatan
berguna bagi kami untuk melatih adik-adik kami," kata Mas Galih
Prayitno (Biru Merah) pelatih PD Yogya.
Untuk golongan pesilat SMP dan SMA memang tidak dipilih pesilat
terbaik. Akan tetapi, kata Mbak Endah, dari bocoran penilaian para
wasit/yuri, seandainya ada pemilihan pesilat terbaik, kemungkinan besar
akan jatuh ke tangan Ganang, pesilat PD dari SMP Negeri 2 Pandak.
Di sisi lain, membludaknya minat pelajar untuk ikut bertanding
silat itu juga menjadi masukan berharga bagi panitia penyelenggara.
Mereka tampaknya memang tidak menyangka begitu banyak pesilat pelajar
yang demikian antusias untuk mencoba hasil latihan mereka di arena
nyata: pertandingan!!!
Selamat untuk adik-adik PD yang telah mampu membuktikan hasil latihannya di arena. (***)
|
| < Prev | Next > |
|---|







