|
Tokyo (PD),
Gedung Olahraga Bulungan, Jakarta itu mendadak senyap.
Padahal di sana ada sekitar 500 pasang mata yang menyorot ke satu titik
di tengah arena. Dua pesilat sedang berlaga di arena itu. Mereka
bersosok ramping, dengan berat sekitar 53 kilogram. Arena itu adalah
pertarungan para jago perguruan silat. Full body contact dalam arti
sebenarnya. Tidak ada body protector. Kepala boleh menjadi sasaran
pukulan maupun tendangan. Tangan tanpa sarung tangan.
Ketika sebuah tendangan sabit mendarat telak di kepala seorang
pesilat, spontan pesilat itu terjatuh. Penonton ternganga. Tendangan
model begitu masih asing waktu itu. Namun pesilat dengan bekal
tendangan sabit itu beberapa kali menjadi momok lawan-lawannya. Banyak
yang tumbang KO gara-gara sabit. Oleh karena itu, pemilik tendangan
sabit tersebut akhirnya menjadi favorit penonton.
Itu terjadi tahun 1970-an. Kala itu Ikatan Pencak Silat Indonesia
sedang mencari-cari aturan pertandingan. Oleh karena itu haruslah ada
jago-jago dari berbagai aliran silat yang mau diadu di arena
pertandingan.
"Saya memang menjadi kelinci percobaan. Semula pertandingan ditonton anggota Perisai Diri
di Senayan. Lalu diteruskan di GOR Bulungan. Hanya kemaluan yang tidak
boleh diserang. Lainnya bebas," kata Mas Soesilo Soedarmadji dari
Tokyo, Jepang.
Mas Silo, demikian panggilan akrabnya, kala itu
memang menjadi salah satu andalan PD di Jakarta. Oleh karena itulah ia
menjadi pesilat wakil PD untuk terjun di arena pertarungan full body
contact tersebut. Mas Silo sadar, pertarungan itu memang untuk mencari
bentuk aturan pertandingan. Meski begitu, karena yang bertarung adalah para andalan perguruan, maka mereka pun bergebrak dengan sepenuh tenaga dan jiwa.
Beberapa
perguruan yang turun di arena kala itu seperti Garuda Yaksa, Nusantara,
Setia Hati Terate, dan lain-lainnya. Mereka menerjunkan jago andalan
masing-masing.
"Pertarungan sebenarnya tiga ronde. Akan tetapi biasanya belum satu ronde pertarungan berakhir. Banyak yang KO," tutur Mas Silo.
Lalu kiprah Mas Silo sendiri bagaimana?
"Lawan-lawan
saya banyak yang saya KO dengan tendangan sabit. Rata-rata sabit saya
kena kepala sehingga mereka KO. Waktu itu sabit PD memang baru dikenal
oleh umum. Banyak pesilat yang tidak bisa mengatasi sabit," katanya.
Mas Silo menjadi juara. Akhirnya label Mas Silo sebagai jago sabit melekat erat. Sabit Silo menjadi legenda pada waktu itu.
Di
sisi lain, banyak pula lawan Mas Silo yang berusaha memunahkan
tendangan sabit itu dengan teknik tangkapan dilanjutkan dengan
bantingan. Dan tendangan Mas Silo memang bisa ditangkap, dan dibanting.
Akan tetapi, ketika teknik bantingan itu dilancarkan, sewaktu tubuh Mas
Silo melayang jatuh, tiba-tiba secara reflek tangannya meraih si
pembanting.
"Saat jatuh, posisi saya selalu berada di atas. Si pembanting yang justru rugi, kejatuhan badan saya," ujarnya.
Jasa
Mas Silo, juga rekan-rekan sesama pesilat dari perguruan lain yang
dijadikan kelinci percobaan untuk mengolah aturan pertandingan pencak
silat, tidak bisa dilupakan begitu saja. Ada yang kalah dan menang.
Itulah pertandingan. Akhirnya bentuk aturan pertandingan itu terus
berkembang hingga dibuat yang paling aman bagi petarung.
Kiprah
Mas Silo sebagai petarung terus berlanjut. Ia beberapa kali dinobatkan
menjadi pesilat terbaik di Jakarta pada pertandingan antar-perguruan
pencak silat maupun ketika ada pertandingan antar-mahasiswa di lingkup
Perisai Diri.
Body Protector dan Pesilat Undur-undur
Peraturan pertandingan silat berkembang terus dari masa ke masa. Mulai dari full body contact, kemudian menggunakan body
protector. Lalu pesilat hanya boleh menyerang beruntun empat kali. Itu untuk memberi kesempatan juri menilai.
Aturan
itu sempat pula dicederai oleh para pesilat yang suka bermain garis
sehingga menelorkan strategi hit and run. Memasukkan serangan, kemudian
lari keluar arena. Nilai sudah didapat, sementara sang lawan tidak bisa
membalas karena si penyerang keburu sudah keluar arena.
Strategi
hit and run ini memang menelorkan beberapa pesilat menjadi juara. Namun
sebenarnya di kalangan dunia persilatan pesilat semacam ini disebut
"pesilat undur-undur". Pesilat tangguh dengan teknik komplit pun bisa
kalah melawan "pesilat undur-undur".
Mengetahui kelemahan aturan
pertandingan yang dapat dimanfaatkan dengan jitu oleh "pesilat
undur-undur"; maka aturan itu pun disempurnakan lagi dengan perubahan
di sana-sini. Tujuannya agar fair play pertarungan silat bisa terwujud.
Kini
"pesilat undur-undur" dipastikan kalah karena nilainya akan dikurangi
bila ia melakukan strategi hit and run tiga kali berturut-turut. Bahkan
pesilat yang terlanjur takut yang hanya bisa mundur pun bisa langsung
dianggap tidak mampu melanjutkan pertandingan oleh wasit. Hanya pesilat
tangguh dan memiliki stamina prima dan teknik lengkap yang bisa
menyandang gelar juara.
Yang
pasti, kini para pesilat dilarang keras memukul dan menendang kepala.
Para petarung sekarang jauh lebih aman dibandingkan para petarung tahun
1970-an. Para pesilat memang harus berterima kasih kepada Mas Silo dan
rekan-rekannya yang menjadi kelinci percobaan kala itu. (***)
|