|
Location: Semarang
|
Selama
ini banyak yang menilai teknik silat PD merupakan rangkaian gerak yang
patah-patah. Pendek kata, sulit bagi pesilat PD untuk bisa melakukan
gerak silat dengan "kembangan", sebuah teknik silat mirip tarian.
Akan tetapi anggapan itu sebenarnya tetaplah keliru. Bila menengok teknik Minangkabau,
di sanalah "tarian" silat itu bisa disimak. Soal tarian silat
Minangkabau, banyak kemiripan keluwesannya dengan teknik silat
kembangan perguruan lain.
|
Yuanita Putri -- siswa kelas VI SD Petompon 1 Semarang
|
Namun itu ternyata masih kurang bukti. Banyak tantangan yang datang.
Misalnya, PD harus membuktikan bahwa pesilatnya mampu menjuarai nomor
seni wiraloka IPSI. Wahh?!!!
Lantaran tantangan itulah, maka
pesilat PD pun banyak yang berusaha belajar jurus tunggal wiraloka
hasil gubahan tim Pengurus Besar IPSI itu. Konon, dalam jurus tunggal
itu, sebenarnya banyak masukan dari teknik silat PD. Mas Arnowo Adji, Pendekar
PD yang berdomisili di Jakarta telah memberikan teknik-teknik silat PD
untuk digabungkan dengan teknik silat lainnya sehingga terbentuk jurus
wajib IPSI itu..
Hasilnya adalah justru banyak teknik silat
PD yang kemudian digubah lagi. Akhirnya memang tidak terlihat lagi di
mana teknik silat PD itu terselip di antara gerakan silat yang
berdurasi tiga menit tersebut. Para pesilat PD pun "terpaksa" harus
belajar lagi untuk bisa bersilat jurus wajib yang dipertandingkan itu.
Nyaris tidak ada lompatan dalam jurus itu. Padahal teknik PD penuh
dengan lompatan-lompatan. Bagaimana pun juga, jurus tersebut sudah
menjadi keputusan PB IPSI yang harus dipatuhi oleh semua anggotanya,
seluruh perguruan silat; termasuk PD.
Bukan pesilat jika
tidak bisa belajar jurus baru tentang silat. Setidaknya itu telah
dibuktikan tujuh pesilat PD tingkat dewasa pada Pekan Olahraga Daerah
Jawa Tengah tahun 2007. Pesilat PD Nur Faqih dan pasangan Latifah -
Vitri yang menjadi andalan Kota Pekalongan mampu meraih dua medali emas. Sementara trio pesilat putri dari Kota Semarang Nurlela - Santi - Ratna juga meraih emas yang sama di nomor seni tersebut.
Dengan
bukti itu, maka para pesilat PD lainnya pun tergugah untuk makin
belajar "menari" silat seni yang diwajibkan IPSI itu. Para pesilat
anak-anak dan remaja pun berusaha keras menghafal gerak, langkah,
kemudian menghayati serta menjiwai. Sungguh sulit, karena seolah-oleh
teknik baru.
"Mau tidak mau kita harus belajar jurus ini
agar pesilat kita bisa bertanding. PD sudah bisa membuktikan. Kini
giliran anak-anak kita yang duduk di bangku SD juga harus belajar.
Mereka bisa membawa nama PD dan juga sekolah mereka bila meraih
medali," kata Mas Suroto (Merah), dosen Universitas Diponegoro
Semarang.
"Betul.
Dari nomor seni pun PD bisa meraih medali. Bukan hanya pandai
bertanding nomor olahraga saja," kata Mbak Ning Wati (Biru), pelatih PD
dari Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Maka mulailah Mas
Suroto menggembleng adik-adik kecil siswa SD Petompon 1 dan 2 Semarang.
Salah satunya adalah anaknya sendiri yang duduk di kelas VI, Yuana
Putri Nur Utami. Hasil jerih payah gadis cilik itu membuahkan hasil,
juara I seleksi di tingkat Kota Semarang sehingga mewakili Kota
Semarang di Pekan Olahraga Pelajar Daerah Jawa Tengah.
Demikian
pula yang dilakukan oleh Mbak Ning Wati. Ia melatih dua jago sekaligus:
M Labibul Khakim, siswa kelas V SD Guwosuran 3 Grobogan, dan Nurul
Widia Wijayanto, siswa kelas V SD Danyang 1 Grobogan. Mereka berdua
lolos mewakili kabupatennya untuk berlaga di arena POPDA pelajar SD/MI
se-Jawa Tengah di Semarang pada 26-27 Mei 2009 lalu.
Pada
babak penyisihan, tiga pesilat cilik PD itu menjadi juara pool
masing-masing. Mereka harus bersaing dengan 16 lawan di nomor putri dan
16 pesilat di nomor putra. Setiap nomor dibagi dalam dua pool.
Putri,
Labibul, dan Nurul bersaing ketat melawan para pesilat dari Solo. Dalam
hasil akhir, tiga pesilat PD memang masih belum berhasil meraih medali
emas. Mereka masih berada di peringkat empat. Meski demikian, langkah
para pesilat cilik untuk tampil "menari" memang patut diacungi jempol.
(***)
Foto lain:
|
Nurul -- siswa kelas V SD Danyang 1, Kabupaten Grobogan.
|
Yuanita Putri -- siswa kelas VI SD Petompon 1 Semarang
|
|