|
Jakarta (PD)
Pernahkan membayangkan bila 1.000 (baca seribu!!!) pendekar dari 54 perguruan jumpa darat bersama?
Apa yang terjadi? Saling serang? Adu gebug? Baku pukul? Main serang membokong?
Ah, semua istilah itu sudah kuno. Ketinggalan zaman. Bukan sosok pendekar silat bila masih suka kekerasan. Menggeluti beladiri silat adalah sama dengan menata hati, menjenguk kalbu, meniti ajaran Ilahi. Mereka adalah para pelestari budaya negeri sendiri dan pecinta perdamaian.
Maka ketika 1.000 pendekar itu bertemu, mulai dari yang berusia kanak-kanak di bawah 15 tahun sebanyak 251 pendekar cilik, kemudian kelompok dewasa hingga usia 40 tahun sebanyak 524 pendekar, dan sisanya adalah para kakek dan nenek pakar pencak silat; maka ramailah suasana.
Asal tahu saja, dari seluruh pendekar itu 289 di antaranya adalah para perempuan hebat! Mereka ini adalah penerus sosok pendekar Ratu Kalinyamat dari Jepara yang memimpin armada laut menyerang Portugis di Malaka pada abad 15. Para pendekar putri ini juga mengikuti kehebatan langkah Laksamana Malahayati dari Samudera Pasay (Aceh) yang mampu membunuh Cornelis de Houtman, pemimpin Belanda yang pertama kali menginjakkan kakinya di Indonesia pada abad 16. Malahayati membunuh de Houtman di atas geladak kapal dalam pertempuran laut di Selat Malaka.
Para pendekar itu hadir pada Jambore Seni Pencak Silat 2009 yang digelar di Taman Wisata Mekarsari pada 17 - 19 Juli 2009 lalu.
Banyak di antara mereka yang belum kenal sama sekali. Bukan secara orang per orang, nama perguruan silat mereka pun terasa asing di telinga. Maklum saja mereka datang dari Betawi hingga Bali, dari Yogya hingga Madura, dari Wonosobo hingga hingga Medan. Semua perbedaan perguruan, jurus, hingga suku justru makin memperkaya khasanah pencak silat. Mereka bertemu, bersilaturahmi untuk saling mengenal. Ada satu hati dalam kebhinekaan itu.
Panitia Jambore sebenarnya telah menyebar undangan kepada seluruh perguruan silat di negeri ini. Dari sekitar 800 perguruan, 84 menyatakan sanggup datang. Dari mereka yang sanggup itu, akhirnya 54 perguruan yang benar-benar hadir.
Tengok saja nama-nama perguruan itu. Sangkakala Padjadjaran merupakan rombongan terbesar dengan mengerahkan 55 pendekarnya, kemudian Perisai Diri (23 pendekar), Al-Azhar (17), Beladiri Matahari Indonesia (20), Belalang Putih (29), Bima Sakti (25)Cimande (10), Cimande Macan Guling (6), Cingkrik Goning (7), DPD Persatuan Pencak Silat Indonesia Cianjur (12), Galuh Panglipur (8), Garuda Nusantara (21), Gelar Pusaka Pusat (23), Giat Cinta Laksana (20), Hari Hilang (Sumut/6), Harimau (11).
Lalu disusul Jati Pulo Bekasi (18), Joko Tole (Madura/28), Kala Domas (15), Kencana Kwitang (Sumut/12), Kujang Panglipur (24), Manusia Prisai Biru (20), Matahari (20), Maung Lugay (22), Mustika Kwitang (21), Mustika Sekar Panglipur (15), Mutiara Panca Rasa (22), Muyuk Liga Garuda Pancasila (19), Nusantara (28), Paguron Pusaka Cikalong (4), Paku Bumi (17), Pancer Bumi Cianjur (21), Panglipur Galih (12), Pasir Putih Pencak Silat XII (Sumut/12), Pembelaan Diri Lintau Komando (Sumut/5).
Kemudian Persaudaraan Setia Hati (26), Perguruan Silat Tenaga Dasar (19), Perpi Harimurti (3), Phasadja Mataram (2), Perisai Sakti Mataram (11), Pusaka Cinta Wargi Putra (42), Pusaka Jakarta (22), Pusaka Jatipulo (18), Pusaka Waringin (13), Putra Setia (21), Sabeni (2), Sabet Tenabang (20), Sanalika Pusat (27), Satria Nagagiri Cokroaminoto (15), Sikak Emas (23), Slempang Betawi (24), Si Macan Tutul Pusat (17), dan Tampak (Sumut/11).
Dari seluruh perguruan itu yang terjauh adalah dari Sumatera Utara yaitu Pencak Pusaka Jatinegara, Pembelaan Diri Lintau Komando, dan Tampak.
Mas Gambiro, Ketua PS Persaudaraan Setia Hati menjelaskan, "Saya sengaja mengundang para senior dari Wonosobo dan Temanggung. Pokoknya mereka dari perguruan dari daerah pedalaman. Biar mereka senang, bisa mengikuti acara jambore pencak silat yang digelar di ibukota negeri ini."
Sebenarnya jumlah peserta bisa lebih dari 1.000 orang. Acara ini sempat tertunda dua kali karena ada Pemilu Legeslatif dan Pemilihan Presiden. Beberapa perguruan mengurangi jumlah pendekarnya yang akan hadir.
== Harus Antre Mandi ==
Namanya saja jambore, maka para pendekar itu tidur di tenda-tenda besar milik Angkatan Laut. Setiap tenda berisi 20 orang. Ketika saat mandi pagi atau mandi sore tiba; para peserta yang kebetulan terlambat mendatangi kamar mandi, terpaksa harus gigit jari menunggu lebih lama lagi. Mereka tidak kebagian air. Beruntung petugas pemasok air kemudian segera mengisi kembali.
Setiap pagi, seusai shalat subuh, seluruh peserta melakukan senam pagi bersama dilanjutkan latihan. Setiap perguruan memiliki ciri khas masing-masing dalam berlatih pagi. Ada yang mematangkan materi yang akan ditampilkan dalam demonstrasi. Ada pula yang sekadar berlatih biasa.
Acara rutin lainnya adalah makan pagi. Nah, pada sesi ini semua pesilat sudah harus berpakaian seusai perguruannya masing-masing. Mayoritas berwarna hitam. Ada juga yang putih-putih mirip PD. Namun beberapa ada juga paduan antara hitam dan putih. Koordinator tiap perguruan bertugas mengambil jatah makan pagi itu.
Selama jambore itu ada beberapa acara seperti Penanaman 100 Pohon, Temu Kangen para Ketua dan Pendekar dari Perguruan, workshop mengenai cara menanam pohon buah-buahan, membuat kompos dari sampah organik untuk pupuk, workshop tentang cara pelatihan silat, dan tentu saja melihat demonstrasi silat setiap perguruan.
Sebenarnya Jambore itu akan dibuka secara resmi oleh Presiden Soesilo Bambang Yudoyono yang juga merupakan Pendekar Utama. Namun Presiden membatalkan kehadirannya karena ada peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton. Bahkan Menteri Olarhaga Adhyaksa Daud juga tidak bisa hadir.
Ketika jambore usai, para pendekar itu telah saling mengenal. Mereka pulang ke kampung halaman masing-masing dengan kesan mendalam soal kekerabatan, kekeluargaan, dan perdamaian. (*)
|