|
Surabaya(PD),
Para pesilat Perisai Diri dari belahan Indonesia Timur -- Nusa Tenggara Timur -- merajalela di arena Kejuaraan Nasional ke-23 Silat Perisai Diri antar-Perguruan Tinggi yang digelar di GOR Bima, Universitas Negeri Surabaya, 29 November - 5 Desember 2009 lalu.
Mereka, baik di nomor pertarungan bebas, versi PD, kerapian teknik, hingga nomor seni tunggal IPSI; tampil gemilang. Bahkan, ketahanan fisik mereka patut mendapat acungan dua jempol. Satu pesilat mampu merangkap enam sampai delapan nomor pertandingan sekaligus. Pada kejurnas itu Universitas Negeri Surabaya keluar sebagai juara umum dengan meraih 7 medali emas, 4 perak, dan 6 perunggu. Sebagai penyelenggara, Unesa juga berhak memboyong trofi bergilir Presiden RI. Peringkat kedua siapa lagi bila bukan jago-jago dari Indonesia Timur ini yang menyabetnya. Universitas Nusa Nipa Maumere - Sikka mendulang 5 emas, dan 3 perunggu membawa Piala Menkokesra. Di peringkat ketiga adalah Institut Teknik Aditama Surabaya dengan 4 emas, dan 2 perunggu. Pesilat Agatha Trisnawati dari Maumere pun dinobatkan menjadi pesilat terbaik putri. Pesilat ini merebut emas di nomor Versi PD Kelas B Putri dan kerapian teknik. Sementara Rudi dari ITATS Surabaya yang turun di kelas B Putra pertarungan bebas menjadi pesilat terbaik putra. Pelatih dari Sikka, Yosef Ottu dan pelatih silat NTT, Melki Rumlaklak menjelaskan bahwa prestasi menjadi peringkat dua itu sudah sangat menggembirakan. "Kami sudah berhasil menunjukkan bahwa silat PD mampu berkembang dengan baik di NTT. Terima kasih atas segala dukungan dari semua pihak kepada kami," tutur Yosef. Kejurnas yang diikuti ole 325 pesilat dari 32 perguruan tinggi yang tersebar dari ujung timur Atambua hingga ujung barat Bandung itu berlangsung meriah dan ketat. Ambisi para pesilat dari beberapa perguruan tinggi Surabaya untuk tampil maksimal di arena langsung dijawab lugas oleh pesilat Indonesia Timur itu. Selain Universitas Nusa Nipa, Sekolah Tinggi Ekonomi Krisnawan Waingapu juga mampu merebut dua perak, Universtas Krisnawan Kupang merebut satu emas lewat Robinson Deilu, Universitas PGRI Kupang satu emas lewat Adrinus Dae; dan STISIP Fajar Timur, Atambua, memboyong 4 perak dan 3 perunggu. Pelatih Silat STISIP Atambua, Beni Manek mengakui bahwa para pesilatnya sudah tampil maksimal. "Kami menurunkan 11 pesilat. Namun mereka turun di 26 nomor. Mereka telah bekerja sangat keras. Mereka telah memberikan yang terbaik," tuturnya. Dari NTT ada enam perguruan tinggi yang mengirimkan para jago silatnya. Mereka adalah UKAW Kupang, Unv Nusa Nipa Maumere, Universitas PGRI Kupang, Universitas Flores, Ende; STIE Kriswina Waingapu, dan STISIP Fajar Timur, Atambua. == Persaudaraan Lebih Penting == Sementara itu tim Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mendulang 3 emas, 2 perak, dan 1 perunggu. Ketua PD UGM Elsa menjelaskan, ia merasa kecewa pada nomor pertandingan bebas kelas I Putra. Juara dunia silat PD dua kali (PDIC 2005 dan 2008) Sulchan yang masuk babak final memilih ogah-ogahan bertarung di babak kedua karena ia merasa dirugikan penilaian juri pada babak pertama. "Sulchan menjatuhkan lawan dua kali, kemudian tendangan dan pukulannya masuk telak. Namun ternyata ia dikalahkan juri pada babak pertama. Pesilat andalan kami menjadi ogah-ogahan pada babak kedua," tutur Elsa. Sulchan pun menambahkan, "Pada babak pertama saya bisa menjatuhkan lawan dengan teknik sapuan, kemudian jatuhan kedua dengan teknik supit udang. Lalu jatuhan ketiga dengan bantingan di garis yang sebenarnya sah, namun tidak disahkan. Sementara lawan saya mendapat angka jatuhan ketika saya menyapu, dia menendang. Saya dan ofisial yakin, babak pertama menang. Tetapi ternyata kalah 2 - 3. Ya... sudah, saya paham. Ini bukan kesalahan pesilat, akan tetapi soal kekuranganpaham aturan pertandingan." Sulchan mahasiswa Fisipol UGM ini meneruskan, "Bagi saya, bertanding di kejurnas PD justru untuk mempererat tali persaudaraan. Saya tidak mau menjadi emosi sehingga harus membalas menyerang lawan habis-habisan untuk membuktikan bahwa saya bisa menang. Nilai persaudaraan di atas segalanya. Di atas medali. Dan saya melihat banyak pesilat yang sebenarnya dirugikan karena kekurangpahaman aturan pertandingan dari para penilai. Ini otokritik bagi kita semua." Sementara anggota wasit/juri asal Yogyakarta Bambang Johni mengakui memang masih ada kelemahan pada penilaian juri pada kejurnas kali ini. "Saya senang ketika melihat semua anggota wasit/juri dari kalangan sendiri. Hanya saja kualitasnya harus bisa tingkatkan bersama. Bahkan ada teknik jatuhan yang sebenarnya sah, justru dianggap tidak sah. Padahal wasit telah memanggil para juri untuk dimintai pendapatnya," tutur Johni. Anggota wasit/juri Satriyo Lelono dari Jakarta berkomentar, para anggota wasit/juri PD pasti menjadi lebih baik bila mau menambah pemahaman soal peraturan pertandingan. "Pada kejurnas kemarin wasit yang memimpin pertandingan saya lihat sudah bagus karena mereka memang telah memiliki jam terbang banyak. Meski demikian, untuk para juri memang harus menambah pengetahuan peraturan pertandingan. Mari kita belajar bersama. Apalagi nanti bila kita dibutuhkan pada acara Invitasi Interasional VI PD di Jakarta," kata Satriyo. Kejurnas ke-24 Silat PD Antar-Perguruan Tinggi tahun depan akan digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Para senior PD NTT secara terbuka mengundang semua pesilat PD untuk datang ke Kupang. Seluruh akomodasi selama pertandingan akan ditanggung panitia. "Menarik juga. Tapi berapa ongkos biaya perjalanan ke sana. Itu yang harus kami pikirkan," kata Elsa dari UGM. Yang pasti, salut untuk Universitas Negeri Surabaya yang telah sukses menggelar kejurnas. Tidak akan kejurnas bisa berlangsung lancar tanpa jerih-payah saudara-saudara kita di Universitas Negeri Surabaya dan PD Surabaya seluruhnya. (dari berbagai sumber)
|