"Siapa saja yang ingin mencapai sukses, haruslah mendaki dan memanjatnya; bukan melompatinya..."
(R.M.S. Dirdjoatmodjo - Pendiri Perisai Diri)
| Pendekar Silat Main Ludruk, Pelawak pun Tunggang-langgang |
|
|
|
| Written by Joko Nugroho Anindito | |||
| Tuesday, 03 March 2009 14:27 | |||
|
Jakarta (PD)
SYIUTT!!! ZLAB... ZLABH!!!
Kilatan pisau dan hentakan kipas itu mencecar secara beruntun dari tangan Wulantari. Saudara seperguruan Sakerah ini melancarkan serangan bertubi-tubi. Kontan saja Cak Kartolo dan Bedor kempis nyalinya. Mereka lari tunggang-langgang.
Dan gerrr...!!! Ratusan penonton di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Jumat malam (27/2/2009) itu sontak tertawa lepas. Jelas saja begitu, karena Mbak Wulantari memang sedang memamerkan kebolehan bersilatnya di atas panggung ludruk, kesenian khas Jawa Timur.
Cak Kartolo dan Bedor yang lari terbirit-birit itu adalah pelawak kampiun ludruk itu. Pas sudah bila penonton akhirnya tertawa terkial-kial.
Ludruk lakon Sakerah ini dipentaskan atas prakarsa Komunitas Jawa Timur di Jakarta dan Ikatan Alumni SMAN 3 Malang (IKA SMARI AGITMA). Mas Sigit Prakoso (Pendekar) sebagai alumnus SMAN 3 meminta beberapa pelatih PD DKI Jakarta untuk ikut manggung dalam pementasan itu. Mereka seperti Mas Cholis (Biru Merah) sebagai Sakerah muda, Mas Tri Yogo (Biru Merah), Mas Fathoni-Ricardo-Gabriel-Agus (Biru), Mas Tony Widya (Merah Kuning), dan Mbak Wulantri (Biru).
Para awak PD ini kebagian peran sebagai saudara seperguruan Sakerah. Sang guru besar perguruan adalah mantan gubernur Jatim Pak Basofi Sudirman yang berdarah seni dan dulu juga dikenal sebagai pelantun lagu dangdut melankolis "Tidak Semua Laki-laki".
Nah, untuk melihat apakah para muridnya sudah layak turun gunung sebagai tolok ukur telah menyerap ilmu silat. Sang Guru Besar Pak Basofi meminta para murid itu menampilkan kelihaiannya bersilat.
Nah Cak Cholis si Sakerah muda pun tampil bergantian bersama saudara seperguruannya. Memamerkan jurus-jurus andalannya. Dan yang keluar adalah teknik silat PD. Mulai dari tangan kosong, toya, clurit, hingga kipas. Sang Guru Besar ini beberapa kali tertegun melihat hasil gemblengannya. Sesekali juga tertawa melihat tingkah-polah murid-muridnya.
Apakah seluruh gerakan silat PD bisa tampil?
"Memang bisa. Tetapi sutradara menilai gerakan kami terlalu cepat untuk sebuah pertunjukan seni. Sutradara bilang bila terlalu cepat, penonton yang mayoritas awam beladiri menjadi bingung. Misalnya ketika adegan beladiri, kok tiba-tiba salah satu pesilat jatuh. Mengapa jatuh? Diapakan dia? Oleh karena itu kami diminta memperlambat gerak," kata Mas Tony Widya.
Selain itu para awak PD ini juga harus bisa bermain teater sepenuh hati. "Jangan sampai ketika di panggung pemain memunggungi penonton. Nah, ini ilmu baru. Sebisa mungkin harus menghadap penonton, bila perang, ya saling berhadapan menyampingi penonton. Dengan cara itu penonton tetap bisa melihat dengan enak apa yang dimainkan seniman di panggung," ujar Mas Tony.
Tapi ya bagaimana lagi. Meski sutradara berpesan berkali-kali jangan terlalu cepat dalam bersilat, kadang-kadang awak PD ini sering lupa. Gerakan cepat secara naluri keluar juga. Justru di situ tampaknya adegan lucu muncul. He he he...
"Kami bangga sekaligus bersyukur dapat turut melestarikan dan membangkitkan kembali ludruk sebagai kesenian rakyat dan juga senang untuk sesaat bisa menjadi selebriti," Mas Tony.
Maklum saja teman main di panggung itu adalah tokoh-tokoh kaliber sohor. Simak saja nama-nama Kamidia Radisti (Putri Indonesia 2007), mantan Menteri Kehakiman Oetojo Oesman, Pak Basofi Sudirman, Komisaris Utama PT Danareska Indonesia Sutan R Sjahdeini, Direktur Utama Bank DKI Winny E Hassan, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Kak Seto Mulyadi, dan Direktur Utama PT Seaworld Indonesia Sonny Wibisono.
Mas Tony bilang, komunitas warga Jawa Timur itu kemudian meminta kami untuk selalu ikut bermain ludruk bila sewaktu-waktu ada pentas lagi. Ya... mudah-mudahan lewat bermain seni ini Perisai Diri lebih dikenal masyarakat lebih luas dan dapat membuka hubungan ke semua kalangan. (***)
|
