|
/images/img_9184_flash.jpg
Brisbane (PD)
Bruk.. bruk.. bruk!!! Hap!!! Bruk.. bruk.. bruk!!! Suara derak gemuruh itu terdengar keras mengentak. Lantai kayu seolah dengan sigap meladeni hentakan belasan kaki-kaki kecil yang dengan lincah, cepat, dan lugas melompat-lompat di atasnya. Ketika kaki-kaki itu menukik turun, maka suara derak itu kembali terdengar.
"All students, please warming up yourself before the grading..!" tutur Mas Chris Sanidas kepada para peserta Ujian Kenaikan Tingkat Silat PD yang digelar di Maleny pada Sabtu (13 Maret 2010) lalu.

Maleny? Di mana itu? Maleny adalah kota kecil yang berada 100 km di sisi utara Brisbane, Australia. Kota ini berada di kawasan perbukitan yang senantiasa berselimut kabut tebal ketika pagi. Hawanya dingin pada saat hujan, dan akan makin dingin ketika musim dingin (winter) tiba. UKT kali ini diikuti oleh para peserta dari sabuk putih, putih hijau, hijau dan hijau biru. Keempat tingkatan tersebut setara dengan tingkat Dasar I di Indonesia. "Semua peserta ada 24 orang. Usia termuda 6 tahun dan yang tertua adalah seorang ibu berusia 50 tahun. Ibu itu sudah berlatih PD selama enam bulan," kata Mbak Pippa yang menjabat sebagai sekretaris PD Australia. Para peserta ujian itu atang dari kelas Maleny, Gympie, Tarragindi dan Runcorn. Beberapa pelatih hadir pada acara tersebut. Mereka adalah Mas Russel (K), Mas Wesley (MK), Mas Anjar (MK), Mas Stephen Colledge (M), Mas Blake (BM), Mas Rob (B), Mbak Pippa (B), dan Mas Chris Sanidas yang baru saja menduduki tingkat Biru. Materi yang diujikan pada umumnya sama dengan yang dilakukan di Indonesia, antara lain senam kombinasi, solospel, serang hindar(SH) bebas dan SH berpasangan. Yang sedikit berbeda adalah setiap kelas (ranting) harus menyajikan sesuatu untuk diperagakan di depan para penguji. "Ini merupakan sesuatu yang mereka persiapkan sesuai arahan pelatih masing-masing. Kami akan menilai hasil penampilannya," tutur Mas Wesley. Mas Russel yang membuka acara ujian itu mengungkapkan, "Saya merasa bahagia dengan perkembangan Perisai Diri di Australia, khususnya di sekitar Queensland. Perkembangan ini adalah hasil jerih payah para pelatih di ranting dan kalian semua yang senang mengikuti latihan PD. Itu bukan jerih payah kami yang duduk di depan dengan santai dan terlihat elegan dengan tingkatan kami yang tinggi," ujar Mas Russel sambil menunjuk kepada para pelatih senior di depan.
Silat Olahraga Berkelas Sementara itu, tidak jauh dari tempat ujian kenaikan tingkat, berada di sisi barat, tampak berjejer kursi-kursi yang dipenuhi pononton. Mereka adalah penduduk sekitar Maleny yang datang untuk melihat keluarganya mengikuti ujian. Di antara penonton yang umumnya berkulit putih tersebut terlihat seorang perempuan berkulit sawo matang yang dengan antusias memperhatikan jalannya ujian dari awal sampai akhir. Perempuan itu adalah seorang warga Indonesia yang tengah mengamati putrinya yang sedang ujian. "Itu putri saya. Saya menemani dia," kata Mbak Mina yang sudah lima tahun tinggal di Maleny. "Saya sangat senang ada Perisai Diri di kota kecil seperti Maleny ini. Lebih senang lagi ketika bisa bertemu orang Indonesia. Seperti bertemu dengan keluarga sendiri," kata Mina di lokasi ujian. Lalu meluncurlah cerita tentang silat. "Dulu saya tidak menyangka bila di kota kecil ini ada silat. Kebetulan saya bertetangga dengan Mas Chris Sanidas yang warga Australia. Ia datang ke rumah dan mengajak keluarga kami bergabung berlatih silat. Jujur saja, semula saya ragu? Silat macam apa di tempat terpencil ini?" ujarnya. Lalu Mbak Mina menawarkan ajakan berlatih silat itu kepada putrinya. "Dia mau. Setelah berlatih merasa cocok. Saya sungguh gembira. Putri saya belajar budaya negeri sendiri. Dia hingga sekarang terus berlatih dengan Mas Chris," ia menambahkan. Mbak Mina menjelaskan, keluarganya di Indonesia banyak yang memegang sabuk hitam beladiri luar. "Kami melihat beladiri silat dengan sebelah mata. Kami bahkan menganggap beladiri silat itu adalah beladiri..." tuturnya tanpa sanggup melanjutkan ungkapan kata-katanya. "Namun semua anggapan itu kini menjadi berubah. Silat ternyata bukan seperti itu. Apalagi Perisai Diri. Saya merasa senang. Anak saya juga merasa nyaman berlatih bersama Mas Chris," katanya.
Kekeluargaan
Seusai acara ujian kenaikan tingkat, para peserta bisa menikmati hidangan afternoon tea yang telah disiapkan oleh mereka. Para peserta ujian, keluarganya juga bersatu-padu menyiapkan acara makan-makan selepas ujian. Pas sudah acara kekeluargaan itu terjalin. Hidangan yang disiapkan pun beragam, mulai dari makanan khas Australia seperti chips, sandwich dan crackers, hingga makanan ala Indonesia, yaitu onde-onde dan wajik. "Wah, saya harus turun ke Brisbane untuk belanja bahan membuat wajik. Saya ingin memamerkan masakan khas Indonesia. Itulah wajik, makanan dari ketan yang manis," kata Mbak Mina. Semua yang sibuk di dapur adalah keluarga PD Maleny. Suami Mbak Mina pun terlihat suntuk sibuk di dapur. "Kami semua bekerja sama. Ada yang mengepel lantai, mencuci piring. Pokoknya rame-rame kerja bareng. Beginilah orang-orang Maleny. Segala sesuatunya dilakukan bersama-sama. Hal itu membuat kami merasa dekat satu sama lainnya," tuturnya.
Lulus 100 Persen
Hasil yang menggembirakan dari ujian kenaikan tingkat itu adalah seluruh peserta lulus semua. Mereka lulus tanpa syarat. Di Australia lulus bersyarat adalah hal yang wajar. Itu disebabkan ketatnya standarisasi teknik yang diterapkan para penguji. Oleh karena itu para anggota benar-benar serius dalam berlatih karena kematangan teknik menjadi kunci keberhasilan mereka dalam ujian. Karakter silat PD yang mempesona mulai dari teknik hingga suasana kekeluargaannya memang menjadi daya tarik tersendiri. Anak-anak hingga orang dewasa tertarik berlatih silat PD. Bahkan kaum ibu pun tidak mau ketinggalan untuk bisa melepaskan kibasan teknik Garudanya. Semoga hasil ini akan terus menjadikan PD Australia semakin baik. Bravo PD Australia!!! (***)
|