|
/images/joko-widodo4.jpg
SAMBARAN pukulan swing kanan itu mendarat telak di rahang seorang remaja lelaki. Ia terpelanting. Sorak-sorai pun membahana di pinggiran lapangan sepakbola Sekolah Teknik Mesin Negeri 1 Yogyakarta pada tahun 1976. Si penyerang pun merasa senang pukulannya tidak terelakkan. Ia berada di atas angin. Itulah duel dua murid sekolah STM Negeri 1 yang sebenarnya berisiko sanksi berat dari sekolah bila ketahuan: dipecat sebagai siswa.
Akan tetapi,dasar darah muda, masalah sepele pun sudah berujung pada perkelahian. Adu otot lebih utama daripada adu otak. Di Kota Pelajar seperti Yogya sekalipun.
“Saya nyaris KO. Pusing sekali rasanya. Pandangan menjadi kabur. Tapi saya harus bertahan,” tutur lelaki yang kini berusia 50 tahun ini mengenang masa mudanya.
Perkelahian itu bermula dari masalah sangat sepele. “Waktu itu saya siswa baru. Kelas 1. Saya melihat jadwal dan pengumuman sekolah di papan yang berada di dekat ruang kelas dua. Tanpa sengaja pandangan saya menatap salah satu kakak kelas saya. Ternyata ia memandang balas dengan sikap mata melotot. Bahkan menghardik: Mau apa pandang-pandang?! Nantang ya?!” ujar lelaki ini.
Merasa tidak nyaman dihardik kakak kelasnya, siswa baru ini berusaha menyingkir. Akan tetapi kecongkakan kakak kelas itu mengusik hatinya. Kenapa tidak diladeni sekalian tantangannya? Toh dirinya tidak bersalah.
“Maka saya berbalik lagi mendatangi ruang kelas II itu dan menemui kakak kelas yang garang tersebut. Saya hanya bilang: Saya tunggu di lapangan sepakbola setelah bubaran sekolah,” kata siswa baru ini.
Saling tantang dan kesepakatan duel itu menjadi kabar gembira bagi remaja laki-laki siswa STM tersebut. Maka sepulang sekolah, di pinggiran lapangan yang agak jauh dari gedung sekolah telah muncul sebuah “ring kelahi jalanan”. Ring itu berbentuk lingkaran para siswa pendukung jago yang akan melakukan duel. Siswa kelas II melawan siswa baru kelas I.
Namun baru pada gebrakan awal, siswa baru itu terjungkal. Merasa serangannya menyasar telak, si kakak kelas menjadi takabur. Ia begitu senang ketika rekan-rekan sekelasnya memberi semangat.
“Yang lengah saya. Berkelahi di jalanan segala cara dihalalkan. Saya sedang membuka sepatu dalam posisi jongkok ketika serangan itu tiba. Lawan saya tidak menunggu saya siap. Serangan itu menyasar telak. Sakit sekali. Namun saya berusaha bertahan jangan KO,” tutur si murid baru.
Kemenangan awal itu ternyata membuat si kakak kelas takabur. Ia lupa bahwa adik kelasnya masih bisa bertahan. Dan saat itulah petaka gantian menimpanya. Si adik kelas berusaha menjauhi, menata langkah, menata kuda-kuda.
“Lawan saya mendekat lagi dan melancarkan tendangan geledek lurus ke depan kaki kanan. Saya mengelak dengan tolakan mliwis ke atas. Entah mengapa teknik itu yang keluar. Kaki kananya terbawa tolakan. Ia jatuh terjengkang. Saya segera menyusuli dengan berbagai tendangan yang mendarat telak di sekujur tubuhnya,” kata Mas Joko Widodo, si murid baru itu.
Sorak-sorai pun meledak kembali. Keadaan berbalik cepat. Dari pemenang menjadi pecundang. Sang kakak kelas terguling-guling menjadi bulan-bulanan tendangan. Sakit dan merasa tidak berdaya lagi membuat ia berteriak, “Ampuunn... ampuunn..!!!”
Namun keributan di pinggiran lapangan itu ternyata menarik perhatian seorang guru yang belum sempat pulang. Ia keluar dari gedung sekolah menuju lapangan. Akan tetapi para suporter tarung jalanan mengetahui guru itu. Mereka berteriak,”Pak Guru!!! Pak Guru datang!!!”
Paham akan sanksi keras yang bakal menimpa mereka bila ketahuan jatidirinya, tarung bebas jalanan a la remaja itu bubar, mawut, kabur. Semua siswa berusaha menghilangkan jejak. Tidak ada tas maupun sepatu yang tertinggal. Semua lari dan menghilang ditelan bumi. Masuk ke lorong-lorong kampung. Selamat semua. Tinggal sang guru yang kebingungan. Tidak ada saksi yang bisa ditanya untuk mencari alat bukti perkelahian.
Keesokan harinya, suasana sekolah seperti hari-hari biasa. Kisah duel itu tidak pernah dibicarakan. Semua siswa tahu sanksi keras sekolah: dipecat dari STM itu bila terbukti berkelahi. Maka, gerakan tutup mulut pun terjadi.
“Terus terang, saya malu menceritakan kisah itu. Tapi itulah masa lalu. Waktu itu saya tingkat calon keluarga. Saya merasa tertantang karena ada kakak kelas kok begitu sombong. Saya sengaja mencopot sepatu karena ingin seperti apa rasanya menendang dengan benar dan menyasar telak di perut. Pasti mak genyuukkk... gitu, ya? Tapi sikap sombong saya sudah dibayar lunas. Sebuah tendangan di rahang. Pada akhirnya saya tahu, lawan saya itu ternyata ikut beladiri dengan tingkat sabuk coklat. Yang pasti, sejak itu saya tidak berkelahi lagi hingga lulus STM,” kata anak ketujuh dari 10 bersaudara, anak dari pasangan Ibu Ole Kaidah dan Bapak Kaswadi.
Dalam bincang-bincang santai dengan Mas Joko Widodo di tempat usaha loundry-nya di Jalan Ring Road Utara Yogyakarta, ia bercerita mulai belajar silat PD ketika duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ketika sabuk putih ia dilatih oleh Mas Pudyo Nirmolo (seorang dokter). Kemudian naik ke sabuk hijau (Dasar II) dilatih oleh Mas Sukardi. Naik ke tingkat calon keluarga dilatih Mas Aris Budiardjo (kini Pendekar Muda di Boyolali, Jawa Tengah). Lalu ketika di tingkat Strip Putih ditangani oleh Mas Sunardi Sindumintono.

Juara Nasional
Bakat bertanding Mas Joko ternyata diperhatikan oleh para pelatih PD di Yogyakarta. Ia dimasukkan dalam tim Universitas Gadjah Mada untuk mengikuti pertandingan antar-mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga pada tahun 1978.
Mas Sunardi yang melihat bakat Mas Joko menggemblengnya dengan teknik tendangan sabit beruntun kiri dan kanan tiada henti. Pada akhirnya, tendangan sabit inilah yang menjadi ciri khas pola tanding Mas Joko Widodo.
“Di UKSW saya meraih medali emas. Menurut Mas Nardi, pertandingan terbaik saya adalah ketika bergebrak melawan Ari Nuriyanto (Universitas Diponegoro Semarang). Ari sangat bagus, tangguh, kaya teknik. Mungkin hanya karena nasib baik saja yang berpihak kepada saya sehingga menang. Di kejuaraan itu saya meraih medali emas,” kenang Mas Joko.
Lalu ketika Pengurus Daerah Perisai Diri Yogyakarta menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional Silat Perisai Diri pada tahun 1978 yang digelar di Sport Hall Kridosono; Mas Joko menjadi andalan Yogya di kelas A Putra.
Sistem pertarungan full body contact di kejuaraan silat itu menjadi pusat perhatian para pecandu beladiri di Yogyakarta. Gedung olahraga itu selalu dipenuhi penonton.
Di sana juga bakat Mas Joko makin menunjukkan sinarnya. Ia meraih medali emas, bahkan terpilih sebagai Pesilat Terbaik Putra. Sebuah prestasi yang tidak ia duga dari anak Kampung Sendowo yang terletak sepelemparan batu di sisi barat Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada itu.
Nama Mas Joko menjadi terkenal di dunia persilatan karena koran-koran lokal memberitakan kejuaraan nasional tersebut.
Tantangan Duel
Ibarat pepatah semakin tinggi pohon, maka angin yang menerpa pun semakin besar; demikian pula yang dialami Mas Joko.
“Suatu kali, ada seorang pelatih dari sebuah perguruan silat dengan sopan menantang saya. Ia ingin membuktikan apakah benar saya layak menyandang juara, apalagi disebut sebagai pesilat terbaik. Wahh.., saya jelas bingung menghadapi permintaan tantangan itu. Bukan takut, tetapi sungkan saja. Tidak enak, karena dia jauh lebih senior daripada saya. Saya berkali-kali menjelaskan, Mas, jangan, tidak usah Mas. Nanti sakit..,” katanya.
Namun, permintaan itu diulang terus. Akhirnya Mas Joko menyetujui. Duel dilakukan di tengah kebun. Mereka hanya berdua saja.
Duel itu pun berlangsung cepat. Bukan dalam hitungan menit, namun detik. Sabit kanan keras Mas Joko menerpa perut pelatih itu. KO? Ya, hanya sebentar. Sebagai pesilat tetaplah sosok yang tangguh. Ia bangkit kembali. Ia mengira, sabit Mas Joko bisa mendarat telak karena ia lengah.
Tarung diulang lagi sesaat kemudian. Kembali sabit yang sama menyudahi duel itu. Sikap satria dua pesilat tidak menyisakan dendam. Duel adalah sarana latihan dan silaturahmi, saling isi.
Namun, rasa penasaran pelatih itu masih berlanjut. Ia mengundang Mas Joko ke tempat latihan. Di depan 40 muridnya, sang pelatih kembali menantang duel.
Lagi-lagi Mas Joko beruntung keluar sebagai pemenang. Akan tetapi, empat murid sang pelatih serempak ingin mencoba juga.
“Ini yang membuat saya kaget. Tidak saya sangka. Saya harus menyelesaikan dengan cepat. Saya langsung daun melayang, sebuah gerakan yang pasti tidak mereka duga. Satu orang langsung kena, saya susul serangan ke yang lain. Kena juga. Selesai sudah. Sejak itu tidak ada lagi tantangan duel. Saya bersyukur. Saya lebih memilih punya lebih banyak sahabat tanpa harus didahului dengan duel,” tutur ayah dari empat anak, suami dari Irda ini.
Selepas STM, Mas Joko diterima di Diploma 3 (D3) Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sejak itu ia selalu memperkuat UGM adalam kejuaraan silat di mana pun.
Medali emas menjadi langganan. Banyak piala dan trofi menghiasi rumahnya di Sendowo.
Apa rahasia keberhasilan Mas Joko?
“Berlatih dan berlatih terus. Sebagai pesilat yang setiap saat selalu mengikuti pertandingan, maka harus menjaga kebugaran tubuh, menjaga dan meningkatkan keahlian silatnya, dan menjaga menu makanan, dan pola hidup yang sehat,” ujarnya.
Pola hidup sehat itu, misalnya, tidak begadang. Sebab begadang hingga dini hari, tetap saja tidak sehat untuk metabolisme kesehatan tubuh. Mas Joko juga tidak merokok. Untuk urusan makan, ia pemakan segala seperti orang lainnya.Semua jenis sayuran, ia suka. Daging dan ikan juga tidak menampik. Susu pun ia meminumnya. Pendek kata, pola menu lengkap 4 sehat 5 sempurna ia lahap.
Dalam hal berlatih ia memacu dirinya sendiri semaksimal mungkin. Sebagai contoh, bila rekan-rekan sesama latihannya lari keliling lapangan enam kali; maka ia melakukan 10 kali.
Beberapa tahun kemudian, ketika ia berada di Pemusatan Latihan Nasional Pencak Silat; Mas Joko dikenal pesilat yang paling rajin berlatih. Ia berlatih lebih dulu sebelum rekan-rekan satu tim Indonesia memulai pemanasan. Ia juga menambah porsi latihannya secara pribadi. Itu berarti melebihi porsi latihan rekan-rekannya.

Vonis Sang Dokter
Sementara itu, di Yogyakarta, meskipun beberapa gelar juara tingkat lokal sudah digenggam, ada seorang dokter olahraga yang mengamati kiprah Mas Joko pernah memvonis. Sebuah vonis yang bisa mematikan semangat juang seorang pesilat. Vonis itu pun berdasarkan analisis medis yang memang sangat masuk akal.
“Ketika dites kapasita udara yang bisa saya serap di paru-paru, ternyata hanya tiga (3) liter. Itu jelas tidak memenuhi syarat untuk memasok keperluan oksigen seorang pesilat yang harus bekerja keras. Saya sempat down waktu itu. Namun saya bertanya kepada diri sendiri? Bukankah saya bisa membuktikan sejauh ini mampu menjadi juara. Toh itu juga dengan paru-paru yang berkapasitas 3 liter. Jadi mengapa harus kecil hati,” tutur lelaki berkacamata plus ini.
Semangat juangnya yang sempat merosot gara-gara “vonis” dokter itu pun kembali bangkit. Bahkan, seolah dendam pada diagnosa dokter itu, Mas Joko berlatih makin menggila. Ingin lebih dan lebih daripada yang lain.
Ketika gelar juara PON, kemudian SEA Games, hingga juara dunia sudah digenggamnya, ia sudah tidak peduli terhadap vonis sang dokter.
“Saya tahu, secara diagnosa medis memang dia yang benar. Akan tetapi dokter itu lupa bahwa seseorang memiliki semangat pemberian Tuhan yang luar biasa. Semangat ini yang tidak terukur. Dan saya berusaha menjaga semangat ini agar jangan turun. Memang memerlukan kegigihan dan daya juang tiada henti. Semoga adik-adik saya di Perisai Diri mampu memiliki semangat yang lebih baik daripada saya. Itulah justru keinginan saya,” ujarnya.
Hidup Sederhana
Di rumahnya yang sederhana, ada lorong yang disekat dengan tirai kain. Setiap lewat lorong itu, Mas Joko selalu bergerak cepat, menyingkap tirai dengan secepatnya, dan melakukan tendangan T atau gejlig.
Ia tahu kapan harus melakukan itu sehingga tidak menyasar kepada anggota keluarganya yang sedang lewat.
Di samping rumah ada warung kecil. Di sanalah ibu kandung Mas Joko Widodo berjualan aneka makanan untuk anak-anak kos dan tetangga sekitarnya.
Di depan rumahnya juga ada palang besi untuk menggantung sansak. Bila ia berlatih, teman-teman dan tetangga kampungnya sering menonton. Akan tetapi, lama-lama latihan itu mereka anggap biasa. Ada juga teman kampungnya yang ikut berlatih menendang T dan sabit dengan keras menerpa sansak. Namun ia tidak berlatih beladiri. Hasilnya, teman kampung itu pun tidak pernah paham kapan serangan itu bisa menyasar ke tubuh lawannya bila berkelahi. Akhirnya memang hanya sekadar pandai menggebuk sansak.
Beberapa mahasiswa UGM yang kos di dekat rumah Mas Joko banyak yang tertarik ikut berlatih PD. Mereka pun bisa bercerita bagaimana cara Mas Joko berlatih sehari-hari di rumahnya.
Sadar bahwa dirinya menjadi andalan PD, UGM, dan Yogyakarta, dan akhirnya Indonesia; Mas Joko secara serius mengatur pola hidupnya mirip menjalani training centre sepanjang hidup.
Setiap pagi ia selalu berlari jarak sedang, antara lima hingga 10 km. Kemudian masih disusul dengan bermain skipping (lompat tali). Untuk urusan ini, janganlah Mas Joko dihitung berapa kali bisa main lompat tali. Hitungannya adalah berapa puluh menit ia bisa tahan lompat tali.
Bila rata-rata pesilat pemula bermain lompat tali lima menit sudah kepayahan, Mas Joko bermain selama 30 menit masih dengan tertawa-tawa.
Dalam memukul dan menendang sansak, benda itu bukan hanya terayun-ayun; namun terlihat seolah ditebas sehingga akan patah. Itu menunjukkan betapa derasnya hentakan atau kibasan tangan dan kaki pesilat ini.
Berbagai teknik tendangan ia asah. Mulai dari gejlig, T, sabit, swaislag, slosor, hingga trate. Aneka pukulan juga ia pertajam mulai pendeta, swing, satria, sikuan, dan lainnya lagi. Berbagai kemungkinan elakan dengan dibarengi serangan, ia coba. Berbagai serangan beruntun, ia lakukan.
Untuk urusan push up dan sit up, tidak perlu diragukan. Bila ada yang mau menghitung, dijamin ia akan jenuh sendiri.
Dari sekian olah fisik itu, ada beberapa gerakan yang membuat Mas Joko nyengir takluk hingga bulu-bulunya. Ia tidak bisa cium lutut atau split.
“Wah, sudah... kalo untuk itu saya menyerah. Benar-benar tidak bisa. Dipaksakan tetap tidak bisa. Saya juga tidak tahu mengapa,” ujarnya jujur sambil tertawa. Mentertawakan ketidakmampuan dirinya sendiri.
Meski tidak bisa split (merentangkan dua kaki sehingga membentuk garis lurus) ataupun cium lutut, Mas Joko tetap saja piawai melakukan tendangan tinggi di atas kepala lawan sekalipun. Mungkin ini keajaiban. Tapi, mungkin pula tidak. Siapa yang tahu?
Jarak – Jangkauan – Waktu
Beberapa prinsip yang Mas Joko pegang dalam bertanding adalah faktor jarak, jangkauan serangan, dan ketepatan waktu. Semua itu harus menyatu. Dan semua harus mendapat dukungan fisik prima, nyali tinggi, dan penerapan strategi di lapangan.
Mudah tampaknya, akan tetapi sebenarnya sangat sulit untuk menyatukan semua itu. Dan Mas Joko telah melakukan hal tersebut.
Dalam bertanding, Mas Joko bagi lawan-lawannya dan suporter lawannya dinilai sadis. Di pihak lain, bagi kalangan PD apa yang Mas Joko lakukan telah sesuai dengan pedoman silat PD.
Di arena, Mas Joko selalu mengawali sikap “bersedia atau pasang” dengan sikap Meliwis. Setelah itu ia berusaha menggoyah lawannya dengan serangan pancingan. Begitu lawan salah “menghitung”gerak, maka serangan bertubi-tubi Mas Joko akan mendera terus hingga wasit menghentikan.
Jika dua pesilat dibawa ke tengah arena lagi, Mas Joko selalu berusaha menempel lawan dalam jarak jangkauan serangannya. Lawan tidak pernah diberi kesempatan menghirup nafas.
Oleh karena itulah, bila kebetulan mendapat lawan tidak imbang, maka lawan itu menjadi sasaran bulan-bulanan tiada jeda serangan sabit maupun pendeta. Namun selalu saja lebih banyak sabit. Dan penonton pun menilai Mas Joko berlaku sadis.
Penonton seharusnya melihat, dalam menyerang sasaran, Mas Joko tidak pernah melanggar peraturan pertandingan. Ia tidak pernah memukul dan menendang kepala ataupun sasaran terlarang. Ia juga tidak pernah berusaha mematahkan kaki ataupun tangan lawan. Serangannya selalu ke tubuh lawan. Sportivitas olahraga dan fairplay dipegang kokoh Mas Joko.
Ia merajai kelas B Putra (45 – 50 kg). Hanya dua kali ia turun di Kelas A, yakni ketika berlaga pertama kali di UKSW Salatiga dan Kejurnas Perisai Diri tahun 1978. Setelah itu ia naik ke kelas B. Ia juga pernah turun di kelas C (50 – 55 kg) pada Kejurnas Antar Mahasiswa Perguruan Tinggi yang digelar di Universitas Islam Bandung pada tahun 1988.
Tendangan sabit Mas Joko yang dikenal cepat dan keras menjadi momok bagi lawan-lawannya. Akan tetapi sebenarnya kondisi fisik yang prima dan nyali serta mental tidak mau kalah di arena, itulah bekal utama Mas Joko.
Dalam kenyataannya, kalah dan menang adalah hal biasa dalam pertandingan. Dari ratusan babak dan puluhan lawan yang ia hadapi, tiga kali Mas Joko menderita kekalahan.
Seperti legenda seorang petinju juara dunia, demikian pula Mas Joko yang menggeluti beladiri silat. Kekalahan bukan menjadikan ia trauma. Sama sekali tidak. Kekalahan adalah sarana untuk menilai diri sendiri. Menilai strategi, menilai kembali pola serangan, hindaran, dan sejenisnya.
Dari tiga kali kekalahannya itu, ternyata juga berawal dari sabitnya yang dianggap super keras oleh lawan-lawannya. Ada seorang lawan yang ternyata berani menerima sabit keras itu, sekaligus mengangkatnya. Mas Joko terjatuh di lantai pertandingan yang kala itu belum menggunakan matras dengan kepala lebih dulu. Mas Joko kalah.
Dua kekalahan yang lain adalah lawan juga berani menerima sabit keras itu, sekaligus mengikuti arah sabit dengan mengegoskan badan. Kaki Mas Joko tertangkap, lawannya meneruskan dengan tarikan putaran egos. Mas Joko terjatuh.
Lawan yang sama kembali bertemu di Kejuaraan Pra PON (Pekan Olahraga Nasional) X di Padepokan Silat Kartasura, Jawa Tengah.
“Lawan saya tangguh. Berani menangkap sabit saya. Dia memang berani menerima tendangan keras sehingga saya kalah terbanting waktu itu. Namun kali ini saya ingin mencoba lagi. Biarlah ia menangkap kaki saya dan membantingnya. Saya ingin merasakan dan melihat bagaimana dia menangkap dan membanting saya. Mengapa tangannya tetap bisa menangkap sabit saya,” kata Mas Joko.
Hasilnya, tetap saja Mas Joko tertangkap kakinya. Mas Joko meningkatkan kecepatan sabitnya, menggoyah lawan dengan serangan pancingan. Akan tetapi lawan tangguh ini memang sudah mengantisipasi sabit keras Mas Joko. Berkali-kali Mas Joko jatuh, dan kalah. Namun tetap lolos ke arena PON X karena yang diambil menjadi wakil provinsi di PON adalah juara 1, 2, dan 3.
Apa kata Mas Joko tentang kekalahannya itu?
“Akhirnya saya tahu pola pertahanan diri dia dan cara menjatuhkan saya. Di arena PON X di Jakarta saya bertemu dia di semifinal. Namun sejak babak penyisihan, saya mengubah pola serangan saya. Sabit masih saya gunakan, namun saya kombinasi dengan serangan sapuan ular maupun sirkel dan pendeta,” tuturnya.
Menjelang pertandingan semifinal berlangsung, pelatih pesilat calon lawan itu mendatangi Mas Joko. “Wah, Mas Joko, pesilat saya tidak bisa tidur memikirkan cara mengatasi pola serangan Mas Joko kali ini,” katanya jujur.
Mas Joko hanya tersenyum menanggapi sanjungan pelatih tersebut. Ia tahu, pelatih ini juga piawai mengatur strategi dan pola langkah dalam bertanding.
Ketika waktu tanding tiba, Mas Joko sudah merasa di atas angin. “Saya bisa menyerang sesuai dengan rencana. Tendangan sabit pun bisa masuk. Ia memang sempat memegang kaki, namun bisa lolos. Saya menang dan melaju ke final,” katanya.
Adakah rahasia lainnya sehingga sabit Mas Joko sulit ditangkap?
“Ada. Ujung celana saya jahit lebih rapat ke kaki. Itu jelas menyulitkan lawan saya yang memegang kaki mengunci kain celana. Lawan saya memang sangat ahli dalam memegang kaki lawan. Ujung celana lawan bisa dicengkeram dalam puntiran tangannya sehingga kaki tidak terlepas. Bantingan pun dengan mudah ia lancarkan,” tuturnya.
Di final, Mas Joko bertemu saudara seperguruan dari Jawa Timur, Amari Triya Subekti. Dua jago PD ini pun bersaing ketat membela nama daerah masing-masing. Mas Joko membela Yogyakarta dan Amari Triya Subekti membela Jawa Timur.
“Semula saya dinyatakan menang, dan meraih emas. Bagi kami berdua, siapa yang menang tidak ada masalah. Sama-sama PD. Akan tetapi bagi kontingen daerah, itu lain masalahnya. Semua daerah merindukan raihan medali emas. Kemenangan saya diprotes tim Jawa Timur. Akhirnya emas saya beralih ke Jatim. Tapi itulah suasana arena PON yang beramai-ramai membela daerah masing-masing. Bagi pesilat PD, arena PON sebenarnya jadi ajang reuni daerah berbagai daerah. Kami saling menyayangi dan menghormati,” kata pesilat yang suka bersenandung lagu-lagu Ebiet G Ade ini.
Teknik Memanjat
Sambil melayani pelanggan yang menyetorkan cucian ke “warung” loundry-nya, Mas Joko meneruskan cerita.
Ada kisah lain yang menarik. Tim silat Universitas Gadjah Mada yang baru saja mengikuti Kejurnas Perisai Diri antar-Perguruan Tinggi di Malang pada tahun 1981, gagal meraih juara umum. Hanya beberapa hari setelah pulang, ada undangan pertandingan Kejurnas Silat antar-Perguruan Tinggi yang digelar oleh Universitas Islam Bandung.
Tim silat UGM berangkat membawa empat pesilat. Mas Syaukat Ali, Mas Joko Widodo, Mas Slamet Effendi, dan Dewi Budi Sukesri (kelas B Putri), dengan ofisial Mas Joko Priyanto. Di Bandung inilah Tim UGM menorehkan nama emas, menjadi juara umum dengan dua medali emas dan satu perunggu. Karena hanya berjumlah empat pesilat, namun mampu meraih capaian tertinggi, UGM pun menyandang Tim Favorit.
Pada kejuaraan ini Mas Joko bertemu dengan pesilat tangguh dari Jawa Barat yang memiliki serangan andalan tendangan lurus ke depan. Tendangannya tidak pernah meleset. Lawan dibuat kewalahan.
“Namun saya melihat selalu ada tambahan gerak sebelum ia melancarkan tendangan itu. Tambahan gerak itulah yang saya incar. Begitu ia bergerak, saya dahulu dengan teknik memanjat. Tendangannya tidak keluar, justru gantian gejlig – ya gejlig yang jarang saya pakai -- keluar dengan sendirinya. Ia terpental terkena tendangan,” ujarnya.
Dalam hal ini, pengamatan Mas Joko yang mampu melihat gerakan tambahan lawan sebelum melancarkan tendangan, memang hanya bisa dilakukan pesilat yang kenyang bertanding.
Kisah lain lagi yang tidak kalah menariknya adalah ketika ia mengikuti Pekan Olahraga dan Seni Mahasiswa Indonesia di IKIP Jakarta, juga pada tahun 1981.
“Waktu itu kaki saya cedera. Sudah sangat sulit untuk meneruskan pertandingan. Padahal sudah mencapai babak final. Tapi entah mengapa, pertandingan babak final diundur sehari. Dengan terpincang-pincang, saya berusaha mencari ahli pijat. Dan ketemu. Saya dipijat, kaki yang terkilir dibetulkan. Namun jelas belum sembuh. Saya masih pincang,” katanya.
Lagi-lagi babak final diundur sehari lagi. “Kaki saya makin sembuh. Di sisi lain, calon lawan saya bermain di final adalah saudara seperguruan saya dari Surabaya. Ia masih segar bugar, tidak mengalami cedera. Jadi santai saja menunggu jadwal babak final digelar,” katanya.
Apalagi waktu itu penimbangan badan hanya sekali dilaksanakan pada waktu pendaftaran. Jadi sekali pesilat lolos timbang badan, selanjutnya ia tidak perlu timbang badan lagi menjelang pertandingan.
“Ketika malam hari, sekitar pukul 22.00 WIB saya keluar dari penginapan, saya melihat saudara seperguruan calon lawan saya sedang asyik ngobrol dengan rekan-rekan setimnya. Mereka begadang. Ia menyapa saya: Hei... Jok... sudah sembuh sakitnya?” katanya.
Mendengar sapaan itu saya langsung menjawab, “Sembuh gimana? Ini masih pincang. Ya, semoga besok kita bisa bertanding bagus.”
Jujur saja, Mas Joko senang melihat calon lawannya begadang menjelang pertandingan. “Saya justru berusaha secepatnya tidur. Istirahat, sebab esok hari akan bertanding babak final,” ungkap Mas Joko.
Dua pesilat ini sebenarnya pernah bertemu dua kali sebelumnya dalam arena laga. Di final kali ini, Mas Joko melihat kelengahan kakak seperguruannya tersebut. Kurang istirahat karena begadang.
“Akhirnya terbukti. Ofisial saya, Mas Purwowasono dari IKIP Yogyakarta menasihati saya untuk melompat-lompat terus selama tiga babak. Saya harus bisa hit and run. Pola itu jelas akan menguras stamina lawan. Dan benar. Lawan saya kehabisan tenaga. Ia tampaknya kurang tidur. Saya beruntung. Ketika kaki saya yang cedera belum pulih benar, ternyata lawan saya lalai memperhatikan kondisi fisiknya. Saya akhirnya menang,” kenang Mas Joko.
Di Wina, pada Kejuaraan Dunia Pencak Silat tahun 1986, Mas Joko juga harus menghadapi harus menghadapi adik seperguruannya yang berasal dari Bandung, Suryanto di babak final.
Kang Suryanto ini dikenal jago kelas A Putra. Namun pada kejuaraan dunia itu, ia masuk kelas B. Di dalam hal kecepatan, Mas Joko yang memahami usianya yang lebih dari 30 tahun menjadikan kecepatannya menurun. Ia bakal kalah cepat.
“Bila main kecepatan, tidak ada yang bisa menandingi Suryanto. Adik seperguruan saya itu sangat cepat. Sabit saya masih kalah cepat dibandingkan dia. Suryanto sangat baik. Dari segi teknik silat maupun perilakunya. Ia sangat sopan. Sungguh, saya senang memiliki adik seperguruan seperti dia,” katanya.
Karena di dunia laga, maka terpaksa memang harus ada pemenangnya. Itu berarti terpaksa pula ada yang kalah.
“Yang jelas, itu adalah pertandingan yang sangat menarik. Kami berdua saling jual beli tendangan dan pukulan. Sifat petarung PD yang tidak suka main keluar garis arena, bersikap satria, kami buktikan di sini. Bagi kami, ini bukan kalah dan menang sebenarnya. Namun lebih pada menunjukkan kepada dunia, inilah cara bertarung pesilat PD. Bila kemudian saya yang menang, itu karena teknik pendeta yang saya lancarkan untuk mengimbangi sabit Suryanto yang sangat cepat itu,” tutur pesilat berkacamata minus dua ini.
Yang menang dan yang kalah, sama-sama gembira dan puas. Mereka berdua telah menunjukkan teknik silat PD pada kejuaraan terakbar di dunia, di negeri orang. Mas Joko Widodo dengan teknik mliwisnya, Kang Suryanto dengan “kembangan” teknik garudanya. Sebenarnyalah, sulit untuk mengatakan siapa yang menang di antara keduanya. Dua jago PD ini sama-sama hebat dengan kelebihan masing-masing.
Gerakan mereka ringan seperti belalang terbang, ringan dan sulit diduga arahnya. Sementra serangannya menyengat mematikan bak lebah.
Juara Lokal hingga Internasional
Prestasi tanding Mas Joko di antaranya adalah Juara Kelas A Putra dan Pesilat Terbaik Kejurnas PD di Yogyakarta tahun 1978, disusul selalu juara pertama pada setiap Kejurnas Silat Perisai Diri antar-perguruan Tinggi.
Lalu juara Kelas B Putra Kejuaraan Pencak Silat se-Daerah Istimewa Yogyakarta, diteruskan lolos Pra Pon XI tahun 1985. Meraih emas pada PON 1985 di Jakarta. Meraih emas di Kejuaraan Dunia di Wina, menggondol emas di SEA Games 1987 di Jakarta. Meraih emas pada PON X di Jakarta, yang kemudian diprotes Jatim.
Ada pengalaman pahit yang harus diterima Mas Joko pada SEA Games 1989. Itu terjadi ketika ia berhadapan melawan pesilat dari Brunei Darussalam di Kelas B Putra.
“Saya sebenarnya menang KO. Pendeta saya bersarang telak ke ulu hatinya. Ia terbungkuk, mengaduh, namun ia memegang mulut. Wasit tertipu. Dikira saya memukul mulutnya. Saya dinyatakan kalah diskualifikasi. Pesilat itu curang. Tapi itulah pertandingan. Dan waktu itu belum ada aturan wasit bertanya kepada lima juri secara satu per satu bila ia ragu. Saya gagal ke final,” katanya.
Padahal, ujar Mas Joko, ada satu pesilat Malaysia bernama Wardi yang sangat ingin bertemu melawan Mas Joko. Wardi pernah dikalahkan Mas Joko pada SEA Games sebelumnya. Ia ingin membalas kekalahannya itu. Akan tetapi situasi berkata lain. Wardi akhirnya meraih emas dengan mudah menumbangkan pesilat Brunei yang “menang” diskualifikasi tersebut.
Melawan Preman
Pada tahun 1980-an, kawasan Yogyakarta dikuasai para preman yang oleh Wong Yogya disebut “gali”. Mereka ini biasa main palak, ngompas, memeras, dan sejenisnya. Para gali itu menguasai kampung-kampung, arena terminal, kawasan perdagangan, pasar, hingga kawasan lampu merah.
Perangai mereka kasar. Gampang memukul, dan tentu saja menjadi sok jago dan sok kuasa. Ulah mereka jelas sangat meresahkan masyarakat.
Pada suatu hari, Mas Joko baru pulang latihan. Hari sudah memasuki malam. Suasana menjadi gelap. Kebetulan, sepeda motornya kehabisan bahan bakar. Maka ia menuntun sepeda motor Honda warga hitam itu.
Di suatu jalan yang sepi, tiba-tiba sesosok lelaki bersenjata pedang menghadangnya. Ia mendekat dengan cepat.
“Ini jelas niat merampok. Gelagatnya jelas sekali,” Mas Joko mengisahkan.
Lelaki bersenjata pedang berkilat itu mendekati Mas Joko dengan perangai beringas penuh ancaman. Akan tetapi belum sempat ia melontarkan hardikan, lelaki itu spontan berteriak.
“Asem... (makian khas Yogya), jebule balung dhewe (ternyata tulang/teman sendiri)..!!! Kowe ta Ndhut..!!! (kamu ta...)” lontar lelaki itu dengan keras.
Mas Joko yang di kampungnya juga punya sapaan akrab Gendhut sebenarnya sudah waspada siap meladeni serangan, segera mengendorkan syaraf tarungnya. Tarung hidup mati tidak terjadi.
Bahkan si gali itu – yang sebenarnya Mas Joko belum kenal—ikut mencarikan bensin untuk motor Mas Joko.
“Dia mungkin harus menghitung ulang setelah tahu yang dicegat ternyata jago silat he he he..,” gumam Mas Joko sembari tertawa.
Kini pada usianya yang ke-50, postur tubuh Mas Joko Widodo tidak berubah. Ia tetap stabil pada bobot sekitar 53 kg. Gerakannya tetap ringan seperti kapas. Ia selalu sanggup menemani berlatih tanding dalam arti sebenarnya siapa saja yang datang. Sering, sangat sering malah, adik-adiknya diminta memukul pendeta secepatnya. Atau menendang sekerasnya. Boleh memilih bagian tubuh mana saja. Ia tidak mempedulikan apakah adik-adiknya atau tamu yang ingin mencoba tekniknya berpostur tinggi besar atau sepadan.
Ia tidak menahan semua serangan itu, namun mengelakkannya dengan jitu; sekaligus mengajari bagaimana cara penaklukan yang termudah. Adik-adiknya sering tidak bisa mengikuti cara berpikir dan bergerak Mas Joko. Gerakan Mas Joko terlalu luwes, sudah menyatu dengan dirinya, sehingga bila orang lain yang mencoba meniru, belum tentu bisa.
Di Yogyakarta, kini Mas Joko tinggal di rumahnya di Jalan Wachid Hasyim, di sebelah barat kampus Universitas Pembangunan Nasional, di Ring Road Utara, Condongcatur.
Ia selalu terbuka diajak berlatih adik-adiknya. Kapan pun, siapapun. Anak sulungnya, Dian yang kini duduk di kelas 1 SMP juga telah belajar silat PD dan beberapa kali ikut pertandingan. Anak keduanya, Dani, yang duduk di kelas 3 SD belum tertarik berlatih silat. Dua anaknya yang lain masih terlalu kecil untuk bisa memahami silat.
“Ternyata tidak mudah mengajak anak untuk berlatih silat. Ini tugas kita bersama. Orang PD memang harus mengajak anak-anaknya belajar silat PD,” tuturnya.
Di setiap kejuaraan, Mas Joko juga siap mendemontrasikan teknik silat yang ia kuasai. Untuk sebuah demonstrasi, baik ia lakukan sendiri maupun bersama-sama; Mas Joko selalu melakukan pemanasan penuh seperti bila ia akan bertanding.
“Demonstrasi kini adalah arena pertandingan saya. Di situlah saya harus membuktikan bahwa silat adalah beladiri bangsa Indonesia yang unggul.Saya tidak berani demonstrasi bila tanpa pemanasan. Bisa fatal akibatnya. Teknik tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna, di sisi lain otot-otot kita juga bisa cedera karenanya,” ia memberikan penjelasan.
Ia lalu meraih gitarnya. Memetik dengan penuh perasaan, mengalunlah lagu “Titip Rindu Buat Ayah” lantunan Ebiet G Ade.
Di matamu masih tersimpan Selaksa peristiwa... (***)
(Herdjoko – Wollongong, Australia: Minggu, 14 November 2010)
|