Darah Perisai Diri Harus Menurun pada Sang Buah Hati PDF Print E-mail
Written by Herdjoko   
Friday, 13 March 2009 02:08
Cak Man (47 tahun) yang bernama lengkap Rahman Hidayat bersama istrinya Mbak Endang Rahmani seharian bertahan di Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 1 Maret 2009 silam. Mereka ini sedang menunggui tiga buah hati mereka yang sedang bersimbah keringat mengikuti ujian kenaikan tingkat PD. Total jendral, ada 277 anggota PD yang ikut ujian kenaikan tingkat pada hari itu.
 
Dari sisi jumlah, itu merupakan bukti nyata bahwa PD Yogya memang sudah bangkit. Soal kualitas, memang harus bersama-sama berbenah diri untuk bisa melahirkan jago-jago andal PD. Setidaknya Cak Man, mantan jago silat PD kelas C Kota Blitar Jawa Timur era tahun 1979, telah menggembleng empat anaknya untuk meneruskan darah pesilat itu.
 
"Saya ingin anak-anak saya juga bisa bersilat. Seperti bapaknya. Saya belajar PD sejak tahun 1970 hingga 1979. Terpaksa berhenti berlatih karena tulang punggung kaki saya remuk saat pertandingan. Jadi, ketika saya masuk UGM di Jurusan Teknik Nuklir, saya tidak bisa berlatih PD lagi. Namun jiwa silat ini tidak akan luntur. Ketika saya telah berkeluarga, anak-anak saya berlatih silat PD," tutur Cak Man yang pernah menjadi Ketua Sekretariat Bersama Unit Kegiatan Mahasiswa UGM pada era 1980-an.
 
Empat anaknya masing-masing Sekar Pelangi (tingkat Calon Keluarga), Sekar Langit (Cakel), Jalu Lintang (Cakel) dan Jalu Thathit (siswa SD Keputran Yogya) giat berlatih PD. Dari empat anaknya itu hanya Sekar Langit yang terpaksa tidak mengikuti ujian karena sedang mempersiapkan diri untuk ujian nasional sekolah tingkat SMP.
 
"Saya kini mempersiapkan anak bungsu saya yang di SD untuk ikut pertandingan IPSI. Saya meminta pelatih UGM Mas Hanif untuk melatih teknik seni tunggal IPSI. Sebab itu merupakan salah satu syarat dalam pertandingan tersebut," ujarnya.
 
Selain Cak Man, ada juga Mas Subarkah. Dia ini adalah lulusan Fakultas Ekonomi UGM. "Saya hanya sampai tingkat calon keluarga. Kini anak saya juga harus bisa bersilat. Harus melebihi tingkat bapaknya," ujarnya sembari tertawa.
 
Ujian kenaikan tingkat itu seolah juga merupakan reuni keluarga PD Yogyakarta. Banyak para orangtua peserta ujian adalah anggota PD lawas Yogyakarta, bahkan dari luar Yogya. Semua memiliki keinginan sama. Mewariskan darah silat Perisai Diri kepada sang buah hati.
 
 
PD Gunung Kidul
 
Di luar jumlah 277 pesilat pemula itu sebenarnya masih ada 50 anggota PD dari Gunungkidul yang tidak bisa mengikuti ujian di kota. Alasannya sederhana. Mereka tidak bisa membayar ongkos transportasi. Biaya ujian setiap peserta memang hanya Rp 25.000; akan tetapi uang sebesar itu amatlah besar nilainya bagi para orangtua anggota PD di Gunungkidul yang mayoritas petani.
 
"Kami lebih baik meminta Mas-mas dan Mbak-mbak Pelatih untuk datang ke Gunungkidul menguji di sana," kata Mas Wiji (strip Biru), pelatih sekaligus guru SMP Negeri 1 Semin.
 
Bila adik-adik pesilat PD Gunungkidul itu harus turun ujian di Yogyakarta, mereka harus mengeluarkan tambahan biaya sekitar Rp 900.000 untuk ongkos bus.
 
Akhirnya ujian pun digelar di Gunungkidul pada tanggal 8 Maret 2009. Lima pelatih datang ke sana untuk menguji para pelajar SMP Negeri 1 Semin dan SMA Negeri 1 Semin. Tingkat tertinggi di Gunungkidul disandang oleh Dwi Prabowo (Putih Hijau), pelajar SMA Negeri 1 Semin.
 
Mas Wiji pun bercerita, ternyata anggota PD lulusan SMA Negeri 1 Semin yang kini kuliah di STAN Jakarta. "Waktu liburan dia pulang dan bercerita sudah bergabung berlatih dengan PD STAN Jakarta. Wahh, hanya mendengar ceritanya saja saya sudah senang," tutur Mas Wiji.
 
Sementara Mas Galih Prayitno, ketua panitia ujian kenaikan tingkat berencana pada ujian smester depan ia berusaha mengajak anggota PD Gunungkidul itu untuk bisa ujian bersama saudara-saudaranya di Yogyakarta. "Mereka harus kenal saudara-saudara lainnya. Ongkos transportasi akan ditanggung Pengda PD Daerah Istimewa Yogyakarta. Jadi mereka tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan," katanya.
 
Berkiprah di PD memang membutuhkan kelapangan dada, berjiwa besar, dan rendah hati. (***)