Dua Sahabat dan Seorang Kekasih PDF Print E-mail
Written by Henny   
Sunday, 21 September 2008 18:48

 

(Cerita ini saya sumbangkan untuk website Silat Perisai Diri dan juga untuk menghormati Gugun dan Rony [nama samaran], yang masih setia menjadi saudara di Silat Nasional Indonesia Perisai Diri)


"Nek…aku dah selesai belajarnya, aku boleh pergi kan?" teriakku sambil kukemasi buku-bukuku.
 
"PR-nya sudah di kerjain? Besok ada ulangan apa enggak?" tanya Nenek kembali sambil menghampiriku yang masih berdiri di samping meja makan.
 
"Udah dan besok gak ada ulangan kok, gak usah kuatir deh. Buat pelajaran besok juga udah aku baca," kutenangkan Nenek dengan merangkulnya gemas.
 
Seperti biasa sepulang sekolah dan setelah makan siang, aku harus langsung mengerjakan PR. Dan nenekku tercinta memang diberi kepercayaan oleh Mama dan Papa menjadi pengawas di rumah jika aku dan adik-adik sedang mengerjakan PR. Kalo enggak pasti deh kami hanya ribut mulut dan PR-nya gak bakalan selesai.
Siang itu aku memang terburu-buru, sebab jam 4 sore nanti ada janji sama si Gun di stadion. Kami mau latihan bareng untuk pertandingan silat bulan depan, aku sudah niat dan nekat banget pengen ikutan. Walaupun Mama Papa belum tentu setuju itu urusan nanti, pikirku.
 
"Kamu itu mau ke mana... kok buru-buru sekali?" tanya nenek.
 
"Tadi papamu pesan gak boleh ada yang keluar, habis ngerjain PR suruh tidur siang sebab nanti malam ada acara tuh," lanjut Nenek yang aku sambut dengan muka cemberut.
 
"Aduuhh... kenapa sih gak bilang-bilang Nek, aku kan udah janji ama teman. Ini penting banget Nek," jawabku kesal.
 
"Ehh... ehh... cucu Nenek gak boleh begitu dong. Memang mau kemana hayoo... jangan cemberut," rayunya sambil mendekapku dari samping.
 
Nenek memang sayang banget kepadaku, apa saja kalo bisa dikasih deh. Aku menggelayut manja di pundak Nenek dan mengatakan, "Nek, jangan bilang-bilang ya..? Pleaseee…"
 
"Gini nek... aku mau latihan bareng sama teman di stadion panahan deket sini aja. Sebab aku mau ikut pertandingan silat bulan depan," jelasku dengan kepala masih di pundaknya.
 
"Nek, boleh ya..? Nanti aku gak akan pulang lambat dan jangan dibilangin Mama Papa dulu ya sebelum aku siap."
Nenek melihatku dengan membelalakan mata, "Ini… cantik-cantik kok suka tarung."
 
Sekejap lalu nenek tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Tapi… jangan kecewakan Nenek ya? jelek-jelek begini Nenek ini juga jago silat dulunya."
 
"Ciatt… pukul Garuda… Pendeta ..lalu melingkar pukul Satria," sambil memperagakan tehnik PD Nenek menjelaskan dengan penuh semangat.
 
Akupun penasaran dan bertanya, "Memang nenek dulu ikut silat PD juga?"
 
"Enggak... cuman dulu mama papamu kenalnya di PD dan nenek suka ngintip kalo mereka latihan," jelas nenek dan aku tertawa ngakak mendengarnya.
 
"Cuk.. husshhh... jangan bilang mama dan papamu juga ya..?" bekas kecantikannya masih terlihat di senyumnya dan akupun membalas mengangguk tanda setuju.
 
"Ya Nek, tapi aku boleh kan latihannya…?" tanyaku kembali.
 
"Ya, tapi jangan sampai terlambat dan sebelum maghrib kamu harus sudah pulang ya?" pesan Nenek kembali.
Akupun bergegas ke garasi untuk mengambil sepedaku, sementara baju silat yang terikat dengan sabuk merah sudah siap di punggungku. Aku meluncur sambil bersiul riang ke stadion panahan yang letaknya sekitar 1 kilometer dari rumahku.
 
Kunikmati teriknya Surabaya dan angin yang sama sekali tidak sejuk itu dengan perasaan gembira, akhirnya boleh juga aku latihan. Asyikk... pikirku sambil mempercepat kayuhan sepedaku.
 
Tidak berapa lama sampailah aku di depan stadion dan tiba-tiba dari jauh, "Hooii… Dul"
 
"Dasar jam karet, aku dah nunggu satu jam nih…sampai garing," sambil menggerutu Gugun menghampiriku.
 
"Enak aja panggil nama orang Dal Dul!"
 
"Kamu harus tahu dong, susah banget buatku keluar rumah," jawabku tak senang dengan panggilan Dul yang dia lontarkan.
 
"Iya... sorry deh. Makanya itu rambut dipanjangin biar gak ketukar sama si Dul. Halahh sudah... ayoo latihan nanti keburu males," ajak Gugun seraya membantuku memarkir sepedaku.
 
Aku memulai latihan dengan pemanasan dulu sebelum ke latihan inti, lalu berlari memutari lapangan beberapa kali. Pokoknya kita habiskan sore itu dengan latihan fisik dan latihan teknik.
 
"Nin, aku punya rangkaian nih… aku dapat dari pelatihku yang mantan juara juga," ucapnya.
 
"Boleh… Gimana rangkaiannya coba kamu tunjukkan, nanti giliranku, ok?" jawabku sambil mengendorkan nafas setelah selesai melakukan pemanasan tehnik.
 
Gun mulai dengan sikap siap dan dia menyuruhku juga dengan posisi untuk mulai menyerang. Aku dengan sikap siap dalam pertandingan fight, memulai langkah dan meluncurkan tendangan, sementara dari depan Gugun maju kaki kanan menyerong dan mengambil tendangan gejligku kemudian menariknya kedepan.
 
Gerakan itu memang mapas dan harus cepat, serta tepat momennya jika ingin berhasil menjatuhkan lawan.
 
Bukkk...!!! Aku sudah jatuh ke rumput dan meringis kesakitan.
 
"Itu sebagai rangkaian pertama kita nanti. bagaimana menurutmu?",tanyanya sambil mengulurkan tangannya kepadaku.
 
"Hem... boleh juga, tapi kita harus tahu juga modal lawan kita dan itu kita pelajari di detik pertama sebelum memakai rangkaian itu ya?" jawabku dengan memberikan pendapatku.
 
"Ya.. itu di pakai kalo kita mau mengambil poin jatuhan dan memang harus menunggu serangan, biasanya sikap awalnya bisa sikap Harimau dan Garuda," tegasnya.
 
Aku ulangi lagi rangkaian tersebut sampai kami bener-bener menguasai dan menjadikan reflek nantinya. Mudah sekali sebenarnya hanya sikap Harimau ke kanan atau ke kiri, kemudian ketika tendangan datang lompat maju ke kanan atau ke kiri sesuai dengan datangnya serangan atau posisi kita lalu egos dengan membawa kaki lawan untuk kemudian dijatuhkan dengan tubuh agak condong ke depan.
 
„Siiippp!!!" pikirku kegirangan.
 
„Gun ayo... yang kedua nih," ajakku bersemangat.
 
Dengan posisi sikap Putri Berhias aku ajari Gugun untuk menyerang lebih dulu dengan lompatan Tipuan Putri ke depan agak menyerong untuk mengelabui lawan lalu tendangan Te dilepaskan ke perut lawan.
 
"Ini juga boleh dan supaya enteng lompatannya fisik harus bagus, Nin," pendapatnya sambil meringis kena tendangan Te-ku.
 
Kami pun juga mengulang rangkaian kedua tersebut sampai hafal dan juga menambahkan latihan tendangan dan tolakan yang diperlukan dalam menghadapi lawan di arena.
 
"Ya…sementara ini dulu dan aku pengen kita punya tiga rangkaian saja Gun. Yang ketiga nanti kita cari di latihan yang akan datang ya?" saranku dengan nafas yang megap-megap.
 
Waktu cepat berlalu dan aku pun mengajaknya pulang sebelum maghrib tiba. Aku dan Gugun berjalan ke tempat parkir sepeda sambil mulut masih membicarakan program latihan akan datang.
 
"Aduhh..!!," tiba-tiba kurasakan nyeri di lenganku.
 
"Kalo jalan yang bener dong! Jangan penuhin jalan tau!" teriak seseorang yang menabrakku, sementara aku merasakan sakit di lenganku kena stang sepedanya.
 
"Ehh udah salah malah-marah, harusnya situ yang minta maaf," bela Gugun sambil melangkah maju ke depan.
"Mau apa kamu! Tuh teman kamu yang menuhin jalan! Dasar cewek genit," dihentikannya sepedanya dan berbalik ke arah di mana aku dan Gugun berdiri.
 
"Sudah... Sudah gak ada apa-apa, aku memang salah," jawabku sambil mengajak Gugun berbalik untuk mengambil sepeda.
 
"Tunggu dulu, kamu anak PD kan? Sudah ngaku aja. Aku tadi lihat kamu berdua latihan di pojok," tanyanya.
 
"So... mau apa kamu?" ujar Gugun gak menggubris ajakanku.
 
"Heii Bung, jangan membangunkan macan tidur ya..?" dengan gaya meyakinkan Gugun menghampirinya kembali.
 
"Apa kamu kecil, badan kecil kerempeng macam kamu apa yang bisa diandalkan?" ejeknya sambil mendorong Gugun hanya dengan satu tangan saja.
 
Duh... nafsu banget aku mau ladeni si sok jagoan ini, tapi hati kecilku menahannya untuk sabar ketika kuingat pesan Guru. Cakep-cakep tapi galak dan gak tau aturan, pikirku lagi.
 
"Iya deh kami emang kecil kerempeng dan jelek, maaf kalo membuat kamu gak nyaman. Ok?" kutarik tangan Gugun yang sedang menahan marah untuk segera pergi.
 
Si Sombong masih tidak puas malah menarik baju Gugun. Dan tiba-tiba dengan gerakan yang lebih cepat, Gugun berteriak, "Hyaaattt…!!!"
 
"Hukk…akhhh!!!"sekejap saja si Sombong sudah terbongkok dengan tangan yang terpelintir oleh beladiri Gugun.
 
"Mau dilepasin atau diterusin nih? Cepat jawab!!!" gerutu si Gugun dengan nada geram dan masih memegang tangan si Sombong.
 
"Ampun..iya..iya…lepasin,"dengan muka pucat menahan sakit si Sombong meraung.
 
Aku ulurkan tanganku untuk membantunya berdiri, dan dengan kesal dia menerimanya.
 
"Lalu…apa?!" pelotot si Gugun mengharapkan dia meminta maaf kepadaku.
 
"Iya.. sorry, aku tadi terburu-buru sebenarnya," jelasnya lagi.
 
 
"Namaku Rony dari karate dan kalian?" tangannya diulurkan sebagai tanda perkenalan.
 
"Nina…," jawabku singkat sambil kemudian Gugun menyusul memperkenalkan diri.
"Ok, besok saja dilanjut aku harus pulang sebab sudah janji sama Nenek. Kalo kamu mau ikutan latihan, datang saja besok di sini juga sekitar jam 4 sore," ajakku lagi sambil setengah berlari ke tempat sepedaku.
 
Aku segera meninggalkan mereka dan kukayuh sepedaku cepat-cepat supaya tidak terlambat sampai di rumah. Jalanan Surabaya yang macet membuatku harus ekstra hati-hati menyelinap diantara mobil yang terjebak kemacetan.
 
Sampai depan rumah, kulihat pintu garasi sudah tertutup pertanda Papa sudah datang. Dengan hati-hati aku buka pintu pagar depan lalu menyelinap masuk kamar.
 
"Heii.. bandel, dari mana kamu," sapa suara yang aku kenal.
 
Aduhh.. mati aku, itu suara Papa yang kebetulan berada di dapur, "Eee…dari latihan Pa, sama teman di stadion."
 
"Latihan apa lagi, silat atau cuman mainan saja," tanyanya kembali sambil memegang pundakku.
 
"Iya silat dong... Eee… aku mau ikut pertandingan sebenarnya. Tapi itu kalo dibolehkan lho," jawabku penuh harap dan cemas.
 
"Boleh asal jangan bikin malu papamu dan jangan sampai badanmu cedera dan biru. Bagaimana... setuju?" jawabnya dengan persyaratan yang menurutku agak berat juga.
 
"Satu lagi, jangan beritahu mamamu kalo Papa menyetujui, kamu atur sendiri waktumu setelah belajar," lanjutnya lagi dengan senyum mengembang dan berlalu ke kamar.
 
"Yuhuiiii…asyiikkk asyikkk…yess!!" bisikku sambil mengepalkan tanganku tanda senang.
 
Aku berlenggang menaiki tangga menuju kamarku dan ingin segera membersihkan badan sebab keringat yang bercampur debu membuat badanku tidak nyaman.
 
Setelah mandi akupun bergegas berganti pakaian yang pantas untuk acara sore itu bersama keluarga. Kulihat lenganku meninggalkan bekas warna biru akibat peristiwa tadi, kuambil baju yang berlengan untuk menutupinya sebelum seisi rumah menyerangku dengan pertanyaan.
 
Malam itu aku habiskan bersama keluarga, seperti biasa jika malam minggu dan awal bulan Papa selalu mengajak kita makan diluar rumah. Dan malam ini aku cuku bahagia sebab Papa sudah mengijinkanku, sesekali aku tersenyum jika bertatapan mata dengan Papa.
 

 


Saat Itu Tiba 

 

 

Waktu pun cepat berlalu dan akhirnya saat yang kunantikan itu datang. Gelanggang pertandingan sudah di penuhi oleh penonton dan atlet yang akan bertanding. Aku dan Gugun sedang bersiap-siap untuk mengikuti upacara pembukaan yang akan dihadiri oleh Bapak Pengasuh (Guru Besar), para pendekar dan pejabat setempat.
 
Pertandingan antar SMA itu diikuti oleh sekitar 20 SMA yang ada di Surabaya, dan aku mewakili SMA-ku yaitu SMAN IX untuk kelas D putri pertarungan bebas. Sedangkan si Gun mewakili SMAN V untuk pertarungan bebas kelas A.
 
Hati berdebar-debar menanti urutan pertandingan, kulihat Rony duduk di bagian penonton yang tidak jauh dari tempatku berkumpul bersama atlet. Dia mengacungkan dua jempolnya memberi semangat.
 
Hemm... kuhela nafas kembali mengingat perkenalanku dengan Rony yang akhirnya kita bisa jadian hingga saat ini. Sejak peristiwa tabrakan sepeda lalu, dia rajin banget mengunjungi stadion untuk menemaniku dan Gugun untuk berlatih dalam rangka mempersiapan pertandingan ini. Bahkan juga tak bosan ikut menemaniku berlari di siang bolong mempersiapkan fisikku.
 
Semangatku kian menjadi ketika Rony mulai hadir di hatiku serta mengisi hari-hari latihanku selama ini. Dia tidak lagi sombong dan karakternyapun juga banyak berubah. Sebab aku dan Gugun selalu berbagi pesan pelatih silat kepadanya. Bahwa belajar ilmu beladiri itu bukan untuk sombong dan main hakin sendiri. Tetapi belajar silat juga harus bisa menahan diri dan bijaksana dalam menghadapi kondisi apapun. Budi pekerti yang luhur menjadi pegangan seorang pesilat atau seorang ahli beladiri sejati.
 
Lamunanku buyar ketika Gugun yang tiba-tiba bertanya, "Nina... sebentar lagi kamu tanding, siapa yang jadi pendampingmu?"
 
"Mas Triya. Tadi dia juga bilang mau juga jadi pendampingmu," jawabku sambil menepuk pundaknya.
 
Memang selama ini kami tidak mempunyai pelatih khusus. Hanya bermodalkan bertanya serta konsultasi di saat latihan rutin di cabang sudah membuat kami percaya diri. Kebetulan mas Triya yang sering kami datangi untuk tempat bertanya.
 
"Jangan lupa Nin ketiga rangkaian dan aku akan duduk dekat sudut biru," katanya mengingatkanku ketika aku sudah harus memakai body protector dan perlengkapan tanding.
 
Memang Gugun ini sibuk banget anaknya, tetapi aku suka berteman dengan dia yang apa adanya serta loyal banget sama teman.
 
Panggilan pertama sudah kudengar dan namaku di sebut oleh panitia untuk memasuki arena. Setelah hening bersama pelatih, dengan langkah pasti aku memasuki arena. Kumasuki arena dan memberi hormat kepada ketua pertandingan, wasit dan juri.
 
Lawanku kali ini juga mantan juara tahun lalu, sementara ini pertandingan keduaku sejak aku sudah boleh bertanding. Kutatap matanya ketika berjabat tangan dan ketika wasit memberikan pengarahan.
 
Aba-aba bersedia sudah diberikan wasit, dan aku mulai membuka langkah membentuk sikap. Aku tidak membuka serangan hanya menunggu saja dan tiba-tiba sebuah serangan deras meluncur ke arahku.
 
Dengan cepat aku lopat egos sambil meninggalkan tendangan, kemudian aku susul dengan pendeta dua dan gejlig yang bertubi-tubi hingga lawanku keluar dari arena.
 
Itu adalah rangkaian ketiga yang diberikan oleh guru sebagai pelengkap rangkaian yang aku terima bersama Gugun.
 
Tidak terasa babak pertama sudah berakhir dan di babak kedua aku harus menghadapi emosi lawanku setelah dia kalah di babak pertama karena jatuhan. Dengan kaki diangkat dan sikap Garuda, aku mencoba mengaburkan lawan dengan langkah dan sikap-sikap.
 
Rupanya dia juga pandai dan lebih berhati-hati hingga kami ditegur oleh wasit sebab saling menunggu dan tidak ada yang melemparkan serangan.
 
Tanpa pikir panjang aku menggunakan rangkaian keduaku, lompat Tipuan Putri ke kanan tapi kutipu dengan pundakku yang seolah aku akan menyerang dari arah kiri.
 
Dia terjebak! Dan tanpa pikir panjang aku tinggalkan tendangan Te di pinggangnya dan aku taruh pancer lalu kuteruskan dengan pendeta tangan dua. Karena dia agak membungkuk sudah aku sambung dengan sabit kananku kearah perutnya. Dengan cepat aku segera melompat mundur meninggalkannya.
 
Babak terakhir sudah selesai dan merupakan babak penentuan, aku yakin bahwa aku menang di babak penyisihan ini. Suara riuh di gelanggang menambah debar jantungku dan terus berdoa supaya juri tidak salah menilai.
 
"Pertandingan dimenangkan oleh sudut BIRU!" suara panitia memberitakan kemenanganku.
 
Kujabat tangan lawanku dan segera kutemui mas Triya pendampingku, kulihat Gugun dan Rony sudah menyambutku di sudut atlet.
 
„Selamat ya Nin, sekarang giliranku nih," jabat Gugun dan berlalu sebab harus sudah memasuki arena.
 
„Ok Gun, main yang bagus ya..?" ucapku sambil menepuk pundaknya.
 
"Nina..selamat ya...?" ucap Rony dengan senyumnya yang senantiasa membuat hatiku berbunga-bunga.
 
"Iya Ron... tapi masih ada tiga pertandingan lagi untuk bisa menjadi juara," terangku dengan menyambut tangannya.
 
"Aku yakin kamu bisa," jawabnya seraya meluncurkan ciuman sayangnya di keningku.
 
"Yook kita lihat Gugun," ajakku untuk menutupi rasa maluku dan kami pun segera mendekati arena di mana Gugun bertanding.
 
Biar kecil kerempeng tapi gerakannya cepet banget dia, sabitnya menjadi andalannya. Sebenarnya dia cukup dengan lempar harimau dan sabit aja sudah cukup, sebab lawannya modalnya cuma tendangan lurus saja. Permainan yang bagus dari Gugun tidak sia-sia. Ia menang telak.
 
Akhirnya, aku dan Gugun melewati babak penyisihan dan semifinal dengan baik. Kami berdua berhasil maju ke babak final keesokan harinya.
 
Malam yang penuh perjuangan buatku dan Gugun, sebelum pulang aku masih berusaha melihat sekujur tubuhku. Takut kalo ada yang biru-biru sebab aku sudah janji untuk tidak cedera dan biru. Tapi... ada bengkak di tulang kakiku sebab benturan dan juga jari tanganku yang sakit jika di tekuk akibat sabit musuhku.
 
"Gun, ada minyak gosok enggak?" tanyaku sambil menunjukkan bengkak di kakiku dengan muka kecut.
 
"Nina..mau aku bantu? si Rony juga tak kalah sigap sehingga Gugun tersenyum malu sambil memberikan obat gosok ke tangan si Rony.
 
Sambil meluruskan kaki aku menikmati urutan tangannya, kubiarkan badanku bersandar di tembok gelanggang. Aku tersipu malu ketika dia mulai dengan candanya, Gugunpun melemparkan ledekan-ledekan kecil kepadaku.
 
"Manja banget si Dul ini, dulu mana ada cara beginian?" ledeknya.
 
"Biarlah Gun, selama aku bisa memanjakan tuan putri itu sudah kebahagiaan tersendiri," jawab Rony.
 
"Waduhh tuan putri apaan, kamu hati-hati loh Ron."
 
"Sebab di balik manjanya ada juga teratainya," lanjut si Gugun.
 
"Akkhhh kamu ngiri aja, sebab gak ada yang pijitin kamu," cergahku dengan tertawa kecilku.
 
"Ehh.. ayook pulang udah jam 11 malam nih, besok kita harus tanding lagi," ajakku mengingatkan mereka berdua.
 
Malam itu akhirnya di tutup dengan perjalanan pulang ke rumah bersama mereka dengan perasaan gembira. Dan berdoa untuk pertandingan besok, supaya aku dan Gugun juga bisa bermain sebaik mungkin untuk mendapatkan juara.
 

 


Malam Final

 

 
Dalam pertandingan final ini adik-adikku serta Mama juga ikut hadir menyaksikan. Semalam aku sudah membuat mereka heboh dengan berita kemenanganku di babak penyisihan dan semifinal. Akhirnya dengan agak berat hati tetapi juga gembira Mama merestui keikutsertaanku di pertandingan ini.
 
Nenek juga tak kalah heboh, tetapi malam ini Nenek tidak hadir menyaksikan sebab Nenek gak tega lihat aku tarung di arena. Hanya Nenek akan berdoa untukku supaya selamat dan dapat melampaui pertandingan dengan baik.
 
Papa juga hadir dan duduk berdampingan dengan Mama. Dan Rony di tempat duduk terselip di antara penonton. Aku juga sudah mulai berdebar dan menganggap ini langkah akhir yang menentukan.
 
Kulihat Papa turun dan menghampiriku, "Bagaimana? Siap? Tenang dan lakukan semampumu juga jangan lupa konsentrasi. Papa akan mendoakan."
"Gun, bagaimana kamu juga sudah siap kan?" tanyaku kepada Gugun yang dari tadi bengong di sebelahku.
"Ada apa sih kamu kok kayak lihat setan?" dengan penasaran aku senggol dia.
 
"Eeemm.. aku menuggu teman, dia janji nonton tapi kok belum datang ya?" jawabnya dengan kepalanya yang melongok kearah pintu masuk gelanggang.
 
"Aduhhh Gun, kamu ini udah dikasih tahu tadi untuk konsentrasi. Eh malah mikirin teman," tegurku lagi.
 
"Teman apa pacar?" ledekku.
 
"Calon pacar, dan dia bilang kalo aku menang dia mau ikut PD juga Nin," jawabnya menegaskan.
 
Seorang gadis remaja seusiaku tiba-tiba muncul dari pintu masuk gelanggang. Dengan memakai celana jeans dan kaos putih dia melangkah kearah kami sambil tersenyumn manis. Pasti itu calon pacar si Gun, aku bisa mengerti jika Gun juga butuh semangat.
 
Aku mempunyai Rony sebagai penambah semangatku, kulempar pandanganku ke arah penonton yang kemudian disambut juga oleh senyum khas Rony pacarku.
 
"Gun, kamu main dulu kan?" tanyaku yang dijawab anggukan oleh Gugun.
 
Aku dan mas Triya membantunya menyiapkan diri. Mas Triya mengajakku ikut jadi pendamping selama Gun bertanding.
 
Lawan Gun lumayan berat dan gak seimbang tinggi badannya, Gun yang pendek kerempeng harus berhadapan dengan si tinggi yang juga sama kerempengnya. Akan sulit bagi Gun untuk menyerang dan harus banyak menunggu. Di sini harus main taktik untuk bisa mendapatkan point.
 
„Bersedia? Mulai!!!" aba-aba wasit mulai terdengar.
 
Gugun kulihat cukup tenang menghadapi musuhnya, sementara mas Triya sudah mulai memberi komando untuk tenang menunggu. Dan benar lawan tidak sabar pengen menyerang, ini keuntungan Gugun. Tendangan pertama berhasil ia tangkap dan Gugun menjatuhkan lawannya. Ternyata rangkaian pertama cukup ampuh untuk meraih angka dari teknik jatuhan.
 
Berhadapan dengan musuh yang posturnya tinggi, Gugun bisa memanfaatkan tehnik bantingan untuk mendapatkan point. Serta rangkaian ketiga juga bisa dilakukan yaitu dengan lempar harimau dan sabit. Dan diusahakan tetap mendekat dengan lawan untuk mempersempit geraknya.
 
Babak demi babak dilampau. Kami sontak kegirangan ketika Gugun menang telak.
 
Giliranku pun tiba…
 
Lawanku juga sangat giras. Aku tahu dia banyak mencari kaki untuk jatuhan. Hemm.. aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk ini. Ketiga rangkaian itu hanya bisa dilakukan jika aku berhasil melampaui kecepatan geraknya.
 
Sebab yang diincar adalah tendanganku aku merubah posisi untuk memancingnya bergerak maju duluan. Aku membuat posisi seolah kaki kiriku yang akan menendang, dan benar ketika aku maju dengan kaki kiri sedikit terangkat lawan maju untuk siap menangkap kaki kiriku.
 
Tetapi dia salah sebab aku dengan cepat menaruh pancer menjadi lompat egos meninggalkan pendeta lalu aku susul dengan Te dan Pendeta dua.
 
Aku ubah permainanku sesuai instruksi mas Triya. Kali ini lempar dan sabit menjadi modalku. Sebab lawan sudah tahu bahwa aku banyak bermain pancingan, sehingga dia sekarang lebih banyak menyerang.
 
Melingkar tubruk Pendeta tangan dua dan gejligku juga tak mau kalah dalam mendera lawan. Ini juga andalan pelatihku dan menjadi menu utama dalam latihanku untuk persiapan pertandingan ini.
 
Akhirnya akupun bisa melampaui pertandingan ini dengan baik dan juga berhasil menang dalam final pertandingan kelas D putri. Ini adalah emas pertamaku setelah kegagalanku tahun lalu mengikuti pertandingan IPSI dan hanya mendapatkan perak.
 
Kemenangan ini disambut gembira oleh orang-orang terdekat yang hadir menyaksikan pertandingan itu. Aku dan Gugun saling berangkulan saking gembiranya hingga aku melupakan sakit di kakiku yang bengkak akibat benturan dengan musuh.
 
Mama, Papa, adik-adik serta Rony tak henti-hentinya mengucapkan selamat dan memberikan perhatiannya.
 
Aku dan Gugun menjadi juara pertama untuk kelas pertandingan yang kami ikuti. Kerja keras serta keyakinan kami selama ini tidak sia-sia. Rajin berlatih dan bertanya pada pelatih ternyata kunci dari kemenangan ini serta kunci sukses menguasai ilmu bela diri PD.
 
Kabar ini juga diketahui Nenek yang ternyata juga tidak sabar menyusulku kegelanggang.
 
"Itu cucuku… Yang menang itu cucuku," teriaknya membuatku kaget ketika aku harus maju ke depan podium untuk menerima piala.
 
Ulah Nenek menjadikan aku tertawa geli diikuti gerai tawa penonton di gelanggang. Aku semakin bangga terhadap Nenek yang masih memiliki kecintaannya terhadap silat PD serta mendukungku ikut dalam pertandingan ini.
 
Malam itu menjadi sejarah bagiku dan merupakan awal dari kemenanganku yang disusul dengan kemenangan-kemenangan yang lain dalam beberapa pertandingan lain yang aku ikuti.
 
Gugun juga tak kalah. Ia mendulang emas di setiap arena pertandingan dan berhasil menjadi duta Indonesia di pertandingan international.
 
"Nin…ada yang biru dan cedera tidak?" kuingat kembali pertanyaan Papa di akhir pertandingan itu.
 
Syarat yang diberikan kepadaku merupakan pesan yang penuh makna sesuai dengan semboyan PD yaitu "Pandai Silat Tanpa Sakit", yang artinya juga kita harus hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan ilmu silat.
 
Akhirnya Rony pun menjadi anggota Perisai Diri dan juga ikut serta dalam even pertandingan yang di selenggarakan di Surabaya.
 
Ketika dia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta kami sudah tidak lagi berpacaran. Tetapi aku cukup bangga dengan perkembangan silatnya serta prestasinya. Kamipun masih menjalin silaturahmi seperti halnya makna yang terkandung dalam silat.
 
Dua sahabat dan satu kekasih mengisi memoryku yang tak juga akan pernah henti aku dibuatnya tersenyum bangga. Bangga dengan PD-ku, bangga memiliki sahabat seperti Gugun serta Rony sang kekasih yang akhirnya menjadi satu denganku dalam Keluarga PD.
 
-End-

Last Updated on Sunday, 21 September 2008 20:52